Kisah Perjuangan Ibuku
Selain mengurus suami, di usianya yang kini 45 tahun tetap bekerja mengurus sawah milik keluarga, peninggalan nenek tercinta yang telah meninggal 14 tahun lalu.
Sebenarnya sawah kami ada dua petak yang berukuran kurang dari seperempat hektare. Namun, pada tahun 2002 setengah dari ukuran sawah tersebut terpaksa dijual untuk membiayai kuliahku.
Yang membuat aku sedih, orang tuaku menjual sawah warisan itu tanpa sepengetahuanku. Padahal, aku dulu dilarang kuliah karena tidak memiliki biaya sepeserpun. Kalau bisa, anak-anak langsung bekerja sehingga tidak membebani orang tua. Tapi orang tuaku saat itu berprinsip kedua anaknya kelak harus lebih baik dari orang tuanya.
“Bapak dan ibu dulu tidak lulus Sekolah Dasar (SD). Tapi kamu harus lebih baik dari kami,” itulah wejangan Ibu yang selalu diberikan kepada kedua anak tercintanya.”
Di sela mengurus sawah yang cuma sepetak, Ibu pun membantu tugas bapak sebagai abdi negara, seorang Kepala Rukun Tetangga (RT). Meski tidak mendapat gaji, ibu pun mengurus Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) sekitar 30 ibu rumah tangga yang ada di RT kami.
Setiap hari ibuku datang ke masing-masing rumah untuk memberikan kabar terbaru program pemerintah dan mengajak ibu-ibu lainnya datang ke Balai Desa.
Meski sudah memasuki era milenium (era tahun 2000-an), penduduk di desa kami belum memiliki pesawat telepon. Yang punya saat itu, hanya kepala desa. Itupun ditaruh di kantor balai desa. Kalau ada kabar apapun, pengumuman akan langsung disiarkan melalui speaker di masjid desa.
Untungnya, jumlah warganya sedikit, kurang dari 1.000 warga dan bisa mendengar pengumuman ala masjid itu.
Pentingnya Komunikasi Dengan Keluarga
Saat ku berada di Bali untuk melanjutkan kuliah sekitar tahun 2002, aku sempatkan bekerja untuk menutup biaya sehari-hari. Waktu itu, tahun 2002 Bali sedang diguncang oleh bom. Keluarga di rumah pun kaget dan bingung harus bagaimana.
Yang ku ingat, orang tuaku lari ke Balai Desa dan meminjam pesawat telepon untuk menelponku, menanyakan tentang kabarku.
Untungnya, jarak dari rumah ke Balai Desa hanya sekitar 1 km, jadi tidak repot. Untuk menyiasati agar tidak tekor, untuk menelpon itu dilakukan jam lima shubuh, saat pulsa menelpon masih murah. Dan mereka hanya menelpon sekitar 10 menit, karena uangnya kurang.
Aku berpikir, orang tuaku akan terus kesulitan untuk menghubungiku. Baru sekitar tahun 2004, aku bisa membelikan mereka sebuah telepon seluler seharga Rp 750 ribu. Itu sebuah telepon seluler termahal yang pernah kubeli karena aku hanya memakai telepon seluler seharga Rp 350 ribu. Itupun bekas. Aku ingat ponsel bekas pertamaku, Siemens C25. Tapi tak apalah, yang penting bisa komunikasi dengan keluarga.
Biar sama-sama murah, aku pun memaksa ibuku untuk memakai kartu telepon yang sama denganku. Hehehe..
Saat aku menyelesaikan tugas kuliah tahun 2007, aku pun sempat pulang kampung untuk menengok keadaan keluarga. Saat ini ibu sudah tidak perlu repot lagi datang ke rumah-rumah menghubungi ibu rumah tangga yang lain untuk ikut kegiatan di Balai Desa.
Ibuku bisa seketika menelpon atau hanya mengirim pesan singkat, walau masih salah pencet huruf, ke masing-masing ibu lainnya. Tapi karena masih ada yang belum memiliki telepon seluler, ibuku tetap mengunjungi rumah-rumah sekalian silaturahmi.
Menang Lomba XL Axiata
Aku bangga pada ibuku. Walau bukan setenar Inul Daratista, sekaya Malinda Dee, secantik Luna Maya atau sebahenol Julia Perez, ibuku adalah Kartiniku.
Aku sadar, menjadi wanita memang tidak gampang. Banyak peran yang harus dijalankan untuk dirinya maupun untuk suaminya.
Bagiku, #KartiniDigital bukan selalu wanita yang memanjakan dengan perangkat gadget terbaru. Tapi, #KartiniDigital adalah perempuan yang mampu memanfaatkan perangkat digital untuk kemaslahatan sekitarnya, baik untuk diri, keluarga ataupun bangsa.
Ibuku terus memberikan semangat kepada satu anaknya yang kini bekerja di Jakarta dan satu lagi sedang kuliah di Jember, Jawa Timur.
Dalam setiap panggilan teleponnya tiap Minggu, ibuku selalu berpesan kepada dua anaknya ini untuk selalu ingat kepada Tuhan dalam setiap tindakan, bersedekah dan membantu sesama. Itu saja cukup.
Tulisan ini telah menang lomba dari XL Axiata. Aku berhasil mendapat juara favorit. Semoga ke depan bisa meningkat lagi.



Huwooo selamaatt ya Kak.
prestasi membanggakaann. apalagi Ibu memang sudah memancang tekad supaya anak²nya mengenyam pendidikan lebih tinggiii
BarokAllah utk Ortu…Terutama Ibu yg dedikasinya luarr biasa
Semangat Kartini selalu menghunjam dalam jiwa
Kebyang deh ibu PKK dengan seabrek kegiatannya, pasti ngurus Posyandu juga kan? ngurus kesehatan para warga, apalagi sekarang bukan Balita aja yang di timbang, tapi Posyandu Siklus hidup.
Kadang suka sedih para ibu – ibu PKK ini, secara sukarela bekerja untuk membantu masyarakat, padahal tidak ada insentif atau apresiasi yang didapat, kalo adapun kecil sekali, duh saya faham banget karena saya juga membawahi PKK dan 11 Posyandu dengan bejibun ibu – ibu di dalamnya.
Sehat – sehat dan tetap semangat untuk para ibu semua…
Btw itu ga salah ngetik om ibunya umur 45? apa saya yang ketuaan ya?
Aku kaget waktu disebutkan usia ibu baru 45 tahun dan setelah scroll ke atas ternyata tulisan di tahun 2011 ;)
Bisa dibayangkan sie saat itu 2002 lagi booming nya hp yaa dan kalo gak salah ingat hp pertama ku saat itu juga siemens deh mungkin merk yang sama jga secara hp sejuta umat kala itu..
Salut sama kerja keras ibu yang rela keliling desa untuk sosialisasi saat itu dimana komunikasi elektronik memang masih barang yang mahal :)
Tadinya aku pikir ini cerita lomba yg baru2 ini. Trus kebaca nama si ratu korup Malinda Dee, yang mengubah aturan perbankan se-Indonesia, langsung cek tanggal postingan . Dah lama juga ya mas.
Bikin terharu ceritanya… Tapi memang seorang ibu itu pasti akan mengusahakan pendidikan terbaik untuk anak. Dan ibu nya mas, masih sangat mementingkan pendidikan . Karena beliau paham, hidup bisa diubah jika kita berpendidikan.
Sama sih kayak ortuku. Bagi orang Batak, gapapa hidup kurang, yg penting anak hrs sekolah sampai selesai.
Btw ini Hp hadiahnya masih ada mas ?
Ibu. Rasanya nggak berlebihan kalau setiap ibu dianggap sebagai kartini. Seenggaknya bagi anak-anaknya.
Keren sekali ibunya, Kak. Nggak punya gadget bukan jadi alasan untuk nggak bisa membagikan informasi. Langsung door to door nggak tuh. Sekalian silaturahmi.
Kebayang sih betapa kaget dan khawatirnya keluarga pas masa itu, Kak. Bom bukan sesuatu yang main-main. Kalau kena, bisa hancur kita.
Btw, Tahun 2002 sudah kuliah Kak? Waah daku masih pake seragam sekolah hihi. Punten senior, nggak seumuran ya, soalnya Kak Didik kalau mampir menganggapnya seumuran terus wkwkwk.
Btw, perjuangan orangtua memang luar biasa untuk keberhasilan anaknya. Dan ini jadi kesuksesan yang tak terhingga. Semangat dan berkah selalu ya kak
Awalnya bingung kok usia ibunya Mas Didik 45 tahun, bedanya dikit ama aku, jadi aku bisa dikatakan tantenya mas Didik, donk. Trus nambah bingung tahun 2002 kok kuliah, lha kok seangkatan aku, ehhh ternyata tulisan tahun 2011 haha. Dibawa nostalgia nih ceritanyaaa :D .
Ngomongan lomba XL, kyknya sepanjang sejarah aku ngeblog jadi salah satu juara di kompetisi XL juga berkesan buat aku. Gimana nggak, aku lupa tahun berapa, tapi tahun segitu blog2 tu pada dihias cakep2 yang bisa gerak2 gitu lho, tapi XL minta peserta hanya mengirimkan draft tulisan saja tanpa gambar melalui email, baru nanti boleh di-publish, hasilnya aku juara juga yeaayy. berkesan karena penilaiannya murni dari tulisan semata :D
Balik ke tulisan di atas, emang masyaAllah yaaa jadi ortu tu, semua demi anak.
Sekarang udah merasa jadi ortu juga emang bener kek nomor satu tu anak dulu, yang lain2 nyusul, apalagi kepentingan pribadi heuheu. Segalanya diupayakan deh ya kalau buat anak tuu.
Wah.. ibumu Mas Didik masih 45 tahun ya. masih muda. lebih muda saya hehehe. eh.. ternyata bukan sekarang, 45 tahun saat 2011 saat tulisan ini dilombakan.Tapi keren ini, Mas. walau juara favorit pasti senang sekali. Apalagi hadiah juga keren, HP Nokia.
Dan perjuangan seorang ibu memang sepanjang masa. Termasuk diam-diam menjual sawah demi biaya pendidikan Mas Didik. Termasuk bagaimana khawatirnya saat menunggu kabar dari Bali ya. Alhamdulillah komunikasi akhirnya sudah lebih dimudahkan. O iya, saya pun sampai saat ini masih pakai XL. ga pernah ganti nomor sejak tahun 2001. Waktu itu masih namanya Pro XL hehehe
Selamat atas kemenangannya kala itu, tahun 2011. Tulisannya memang menginspirasi, penuh makna, dan kerasa banget ditulis dari hati. Salut juga dengan cerita di baliknya, terutama tentang ibunya. Rasanya bukan cuma soal menang lomba, tapi ada nilai dan perjuangan yang ikut menyertai di dalamnya.
Salam hormat untuk ibunya, ya Mas Didik. Semoga beliau selalu sehat, tetap bisa beraktivitas dengan lancar, dan selalu diberi kemudahan dalam segala hal. Semoga juga kebahagiaan dan keberkahan selalu menyertai beliau.
Cerita Mas Didik ini bukan cuma enak dibaca lho, tapi juga ikut menghangatkan hati.
Whakkk, sebegitu jauhnya umur Mas dengan saya yaaa. Saya tahun 2011, lulus SMK aja belooom, heuheu. Baru lulus setahun setelahnya, alias taun 2012. Tapi prestasi saya di dunia blog juga pertama kali ada di tahun ini mas, tatkala saya mendapatkan hadiah juara ketiga di lomba blog yang diadakan oleh sekolahan. Wah, luar biasaaaa dulu tuh rasanya bangga sekali. Padahal cuma juara tiga, tapi senanggg sekali, hihihi.
Turut mengsedih kala membaca ceritanya mas. Yang namanya orang tua, pasti senantiasa mengusahakan yang terbaik demi masa depan anaknya. bahkan sawah pun rela dilepas ya, demi pendidikan yang lebih baik.
Kalau dulu, daku mah boro-boro ada budget mas. Wong ortuku malah kena tepu, tabungannya ludes semua. Akhirnya kuliahku pun kudu digeser, dipindah ke kelas malem, dan biaya sendiri.
Beras kencur di warung bu mugni
Ambil segelas oh nikmat rasanya
panjang umur perjuangan kartini
Dan semua ortu yang cinta anaknya
Perjuangan orang tua terutama ibu itu sangat berat dan juga hebat semua diperjuangkan oleh anak-anaknya supaya bisa mendapatkan yang terbaik dalam hidup dan salut kepada orang tua Mas Didik yang telah mendidik dan juga menyediakan semua yang diperlukan dan selamat menang lomba Kartini digital
Sebelumnya, mau ucapkan selamat atas pencapaiannya melalui karya dalam lomba. Keren sekali, selalu senang kalau ada teman yang berprestasi.
Ada benarnya, definisi Kartini masa kini seperti yang mas jabarkan. Beneran deh Ibu mas keren sekali. Salam hormat untuk beliau dengan segala kegigihan dan ketangguhan dalam menjalani hari demi hari. Perempuan harus berdaya dan punya karya serta memberi ruang serta ada jeda supaya makin powerfull ya.
Lalu, ku bantu aminkan doa baiknya. Semoga terwujud ya.
Ya Allah melinda dee apakabrnya hehe kasus yg apik menururku
Oh iyh seblum nya swlamat ya, tulisan nya mengingatkan ku kepada ibu ku juga
Menjadi ibu itu enggak gampang ternyata pa , bnyak hal yg harus di pikul
Namun dalam kondisi apapun beliau selalu ada untuk keluarga
Masyaallah ya mas. Ibunya luar biasa. Ibu yang baik dengan anak-anak yang baik pula. Jadi inget cerita kalau ibunya sedang sakit. Semoga segera diangkat penyakitnya dan sehat selalu.
Ibuku dulu juga bertahun-tahun jadi bu RT mendampingi bapakku. Lalu sekarang setelah pensiun, jadi bu RW hehehe…
Nostallgia banget bacanya, era-era masih menggunakan telfon umum. Kalau dulu aku ngantri tiap malam minggu buat telfon teman atau gebetan Kak, hehe. Di tahun 2004 emang hari 750K itu udah mahal banget. Dulu punyaku cuma berapa ya 150 ribu apa ya second, tapi lupa serinya.
Btw, setiap orang (khususnya milenial nih) sepertinya pernah mengalami masa peralihan yak, dari masa belum ada Hp, hingga masa serba canggih seperti sekarang.
Selamat ya Kak, memang ceritanya perjuangan banget, wajar saja menang! Semoga banyak yang terinspirasi dari cerita yang Kakak tulis :)
Selamat mas Didik atas kemenangannya. Sosok ibu memang selalu menjadi inspirasi bagi kita anak-anaknya yaa. Semoga sehat selalu buat ibunya
Selamat ya mas sudah menang lomba XL Axiata.. Salam untuk ibunya, semoga sehat selalu.. Orang yang bermanfaat buat orang lain, sepertinya itu ya yang tergambar dari sosok Ibu.. Selain kerja di sawah, juga membantu sebagai pengurus PKK di lingkungan rumah. Belum lagi mengurus keluarga sendiri.
Pastinya Ibu Kartini bangga melihat banyak perempuan Indonesia yang bisa berdaya dan bermanfaat bagi banyak orang seperti Ibunya mas. Bisa memainkan peran dengan baik, di rumah, di masyarakat.
Selamat ya mas Didik…menang lomba XL AXIATA, ceritanya bagus sekali menginspirasi. Ibu yang semangat dan tak kenal menyerah sangat menyentuh dan sesuia dengan semangat Hari Kartini.
Barakallahu fiik..
Semoga semakin menambah motivasi untuk menang lomba-lomba berikutnya dan menjadi rejeki untuk keluarga.
Karena memang keluarga adalah support system terbaik.
Kalau orang lain bisa berkhianat, in syaa Allah keluarga yang akan selalu ada ketika kita dalam kondisi apaun.
Apalagi Ibu.. doa dan sayangnya sepanjang masa.
Keren mas Didik. Ceritanya bagus kok tentang ibu yang ga gaptek. Kartini jaman now banyak banget walaupun tak terekspose media tapi mereka ada dan tetap berkiprah, perjuangan mereka pun tak mudah
Salut dengan prinsip ortunya mas, perjuangan mereka luar biasa untuk memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak nya