Facebook New Logo 2015.svg

Facebook_New_Logo_(2015).svg

Facebook Inc mencatatkan pendapatan sepanjang 2015 naik dari US$ 3,85 miliar menjadi US$ 5,84 miliar yang dikontribusikan dari kenaikan iklan sebesar 56,8 persen menjadi US$ 5,64 miliar.

Lonjakan bisnis Facebook cukup mencengangkan analis karena mereka memerkirakan pendapatan hanya US$ 5,37 miliar. Selain itu, rata-rata kinerja perusahaan teknologi melemah, seperti yang terjadi pada Apple In dan eBay Inc, khususnya dipicu ketidakpastian ekonomi global dan penguatan dolar AS.

“Ini fenomenal karena Facebook mampu memercepat tingkat pertumbuhan,” kata analis MKM Partners Rob Sanderson.

Dominasi iklan mobile di Facebook membantu meredakan kekhawatiran Wall Street akibat layanan pesan instan Whats App dan unit virtual reality Oculus dianggap belum menghasilkan keuntungan.

Saham Facebook naik hampir 12 persen dalam perdagangan menjadi US$ 105,32 per saham. Direktur Keuangan Facebook David Wehner mengatakan, kenaikan biaya operasional sebesar 30-40 persen tahun ini, lebih lambat dari tahun lalu.

CEO Facebook Mark Zuckerberg mengatakan, bisnis virtual reality akan menjadi platform komputasi utama berikutnya. Pada Januari, Facebook mulai menerima pesanan untuk versi konsumen dari Oculus Rift.

Saat ini iklan mobile menyumbang 80 persen dari pendapatan iklan dibandingkan 78 persen pada kuartal III dan 69 persen pada tahun sebelumnya. “Pertumbuhan iklan jauh lebih kuat dibandingkan yang kami harapkan,” kata analis Evercore ISI Ken Sena.

Facebook juga memiliki aplikasi ponsel cerdas dan memanfaatkan lonjakan tampilan video untuk mendongkrak iklan. Facebook memiliki 1,59 miliar pengguna aktif bulanan hingga Desember 2015, naik 14 persen dibandingkan 2014. Sekitar 1,44 miliar mengakses Facebook melalui perangkat bergerak, naik 21 persen.

Perusahan riset FactSet StreetAccount memerkirakan, pengguna Facebook hanya 1,58 miliar pengguna aktif bulanan dengan 1,43 miliar mengakses melalui ponsel dan tablet. Saham Facebook naik 25 persen dalam setahun terakhir.

Sumber: Reuters

By Didik Purwanto

Copywriter | Ghost Writer | ex Business Journalist | Farmer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *