IMG 20150703 WA0014 2

IMG-20150703-WA0014 (2)

Kesuksesan berawal dari ketekunan dan pantang menyerah. Itulah yang dilakoni Hotmida Uli Sinaga atau yang akrab disapa Mida.

Berawal dari ketekunan hobi menjahit, wanita 38 tahun ini memproduksi tas dan sepatu kanvas. Ia memproduksi sendiri tas dan sepatu di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur.

Mida mengaku tidak pernah bermimpi untuk berbisnis. Awal mula usaha ini tercipta dari kegemarannya memproduksi tas kanvas untuk kelima anaknya yang masih bersekolah. Lambat laun teman-teman Mida tertarik memiliki tas yang dibuatnya. Akhirnya ia sedikit demi sedikit meladeni pesanan dengan harga terjangkau.

“Saat itu sedang musim orang posting gambar di Facebook. Akhirnya banyak teman yang mau,” katanya.

Dengan modal Rp 30 juta, ia membeli bahan kanvas, mesin jahit, dan sejumlah peralatan produksi tas dan sepatu sekitar enam bulan lalu. Sebagian modalnya juga digunakan untuk membuka bengkel sepatu di Cibaduyut, Bandung.

IMG-20150704-WA0006 (2)

Mida memberi label Le’rie pada produk yang diciptakannya. Nama tersebut diambil dari nama anak kempatnya bernama Hilari (6 tahun). Harapannya, nama tersebut bisa setenar Hillary Clinton, calon Presiden Amerika Serikat.

Sebagai seorang ibu rumah tangga, Mida berprinsip tidak berpangku tangan kepada sang suami yang kini memiliki bisnis kontraktor cukup besar di Indonesia.

Setelah minat tas kanvas buatannya tinggi di kalangan teman-teman, Mida menjajal membuat sepatu dengan jenis boots. Corak sepatu dibuat hampir sama dengan corak tas yang diproduksinya secara bersamaan. Hal ini dilakukannya untuk menarik minat pembeli yang memiliki hobi mencocokkan sepatu dengan pakaian yang dipakai.

Tas dan sepatu buatan Mida memiliki ciri khas yang berbeda. Meski buatan tangan sendiri dan berbahan dasar kanvas lokal, Mida tidak mau mengabaikan kualitas. Sebisa mungkin jahitan tangannya rapi dan tidak mudah rusak. Begitu juga dengan sol sepatu yang didapatnya dari sentra sepatu Cibaduyut.

“Produk kita tidak sama dengan yang lain. Cara menjahit kita lebih rapi dan harganya terjangkau,” kata dia.

Ia membanderol harga tas dan sepatunya mulai Rp 15 ribu hingga Rp 250 ribu per buah. Omzetnya kini bisa mencapai Rp 50 juta per bulan.

Kini Mida mulai merambah produksi dompet anyam, tas rotan, dan toples rotan dengan teknologi menempel kertas tissue bergambar, yang dikenal dengan Copage. Harga yang dipatok untuk jenis dompet anyam dan tas rotan sekitar Rp 250 ribu, toples rotan dibanderol Rp 300 ribu.

Namun ia belum memiliki toko untuk menjual dagangannya. Selama ini Mida menjajakan melalui jejaring sosial seperti Facebook, dan Instagram. Dua bulan terakhir Mida menjajal berjualan dengan mengikuti bazar yang diselenggarakan sejumlah perusahaan.

“Rencananya saya juga mau buka toko, mau memerbaiki kualitas agar produk lokal tidak kalah dengan produk luar,” katanya.

IMG20150702155146 (2)

 

Produk Sempat tak Laku

Menjalankan sebuah usaha tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Terlebih Mida memiliki saingan yang begitu ketat di jejaring sosial. Apalagi banyak pelaku usaha yang menjajakan produk hampir sama dengan produk tas dan sepatu buatannya.

Saat berbisnis, ia pun memiliki hambatan yang kini dijadikannya pengalaman hidup. Saat itu, ia ikut bazar di kawasan Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat. Wanita kelahiran Pematang Siantar, 3 Juli 1977 ini hanya mampu menjual dua produk dalam bazar selama tiga hari. Padahal harga sewa kios bazar mencapai Rp 1,5 juta.

Mida mengaku pasrah dengan rezeki dan kehendak Tuhan. Dia tak marah-marah kepada penyelenggara bazar sebab dinilai salah prediksi lokasi berjualan. Namun ada pula peserta bazar yang marah dan minta dikembalikan uang jaminannya lantaran tak satupun barang terjual.

“Karena bukan hanya saya saja yang rugi, tapi semua peserta bazar juga tidak laku. Makanya tidak perlu lah marah-marah. Saya pasrah saja,” ujar dia.

Belajar dari pengalaman tersebut, Mida mulai menyeleksi lokasi bazar yang potensial untuk berjualan. Dia tak lagi sembarangan ikut bazar yang memungkinkan rugi besar.

Dalam waktu dekat, Mida pun berencana membeli sebuah kios pada mal besar di Jakarta untuk menjajakan produknya. Dengan begitu, Mida tak perlu lagi mengikuti bazar untuk menjual dagangannya. “Kemarin sudah cari tempat, tapi karena mau Lebaran jadi kios penuh semua,” kata dia.

Untuk meningkatkan produknya berdaya saing nasional, Mida bertekad meningkatkan kualitas dan menjajal teknologi printing.

IMG-20150703-WA0010 (2)

Nama : Hotmida Uli Sinaga

Tempat, tanggal lahir : Pematang Siantar, 3 Juli 1997

Alamat : Jalan Kakap 2 Nomor 7a, Rawamangun, Jakarta Timur.

Pendidikan terakhir : SMK

Status : Istri dengan lima anak

Nomor telepon : 081319152765

Email : midaulimidauli@yahoo.co

By Didik Purwanto

Copywriter | Ghost Writer | ex Business Journalist | Farmer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *