mitsubishi1Sumber: www.mitsubishi-cars.co.uk

 

Sumber: www.mitsubishi-cars.co.uk
Sumber: www.mitsubishi-cars.co.uk

Satu per satu perusahaan Jepang mulai tumbang, entah karena bermasalah atau pun diakuisisi perusahaan lain.

Produsen mobil Jepang Mitsubishi mengakui telah memalsukan standar konsumsi bahan bakar minyak (BBM) yang melibatkan lebih dari 600 ribu kendaraannya. Skandal ini mirip seperti Volkswagen (VW) yang terjadi sejak tahun lalu namun terkait emisi.

Kejadian manipulasi standar konsumsi BBM menandai pukulan terbaru bagi industri automotif Jepang setelah perusahaan onderdil Takata menimbulkan 11 korban akibat kantung udara meledak serta skandal standar akuntansi di Toshiba.

Mitsubishi akan menghentikan produksi dan penjualan, khususnya terkait model kendaraan yang terkena dampak. Perusahaan juga memeringatkan jumlah kendaraan akan meningkat seiring pemeriksaan lanjutan, terutama di luar Jepang.

“Kami tidak benar menguji untuk menyajikan tingkat konsumsi bahan bakar yang lebih baik dibandingkan data sebelumnya,” kata Presiden Mitsubishi Testuro Aikawa.

Menurut dia, tes itu berbeda dengan yang dipersyaratkan hukum Jepang. Ia juga memeringatkan seluruh lini produksi mobilnya akan diperiksa kembali karena kemungkinan terdampak skandal tersebut.

“Ini bukan masalah sederhana dan kita perlu waktu (untuk menilai dampak). Tapi kami yakin akan ada dampak. Kerusakannya akan menjadi besar.”

Perusahaan memerkirakan lebih dari 625 ribu kendaraan terdampak, termasuk mobil mini eK Wagon, eK Space, Dayz, dan Dayz Roox. Seluruh mobil tersebut untuk menyaingi mobil produksi Nissan.

“Kami selalu berpikir skandal emisi VW akan bergemuruh dan sekarang sepertinya tidak terbatas pada produsen mobil Jerman,” kata Kepala Perdagangan ETX Capital di London, Joe Rundle.

“Skandal Mitsubishi ini menimbulkan pertanyaan lebih lanjut, apakah ada skandal industri yang lebih besar?”

Saham Mitsubishi anjlok 15,16 persen menjadi 733 yen (US$ 6,73 per saham) setelah media lokal melaporkan skandal tersebut. Penurunan saham Mitsubishi tersebut terbesar dalam satu hari sejak 2004.

“Ini mungkin berbeda dari masalah Volkswagen tapi pasar sudah menjadi sangat sensitif terhadap berita. Dampaknya akan terjadi pada penjualan dan reputasi perusahaan,” kata analis Tokai Tokyo Research Center Seiji Sugiura.

Awal April lalu, Saham Sharp turun hampir tiga persen menjadi 131 yen setelah perusahaan Taiwan Hon Hai Precision mengakuisisi 66 persen saham Sharp senilai US$ 3,5 miliar (sekitar Rp 46,5 triliun).

Ini menjadi akuisisi asing pertama dari perusahaan elektronik besar Jepang. Namun nilai akuisisi turun dari 489 miliar yen menjadi 389 miliar yen. Laba bersih Hon Hai pada kuartal IV-2015 turun 6,67 persen menjadi US$ 1,6 miliar (sekitar Rp 21,28 triliun).

Toshiba akhir Maret lalu juga makin tertekan setelah perusahaan China Midea Group akan membeli 80 persen saham Toshiba yang dikuasai konglomerat sekitar Rp 473 juta.

Belum lagi kinerja perusahaan elektronik Sony yang masih kebingungan dalam fokus bisnisnya. Di bidang ponsel, Sony makin tenggelam ponsel China dan raksasa Apple dari Amerika Serikat.

Ponsel-ponsel China seperti Huawei, Lenovo (yang telah membeli Motorola), OPPO, Xiaomi, dan sederet merek ponsel China mulai menguasai pasar dunia.

Inikah akhir perusahaan Jepang dalam kancah bisnis internasional?

By Didik Purwanto

Copywriter | Ghost Writer | ex Business Journalist | Farmer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *