P 20150917 105757 scaled

P_20150917_105757

Kegagalan pada suatu bisnis tidak seharusnya memicu seseorang patah semangat. Justru dengan kegagalan tersebut akan mendorong kesuksesan di masa depan karena kita bisa belajar dari kegagalan tersebut.

Andy Setyawan menjadi salah satu orang yang pernah gagal tersebut. Semula ia berwirausaha dengan menjual steak daging pada Agustus 2014. Kebetulan makanan tersebut sedang marak digemari masyarakat.

Namun pandangannya tersebut berbeda saat di lapangan. Steak ayam buatannya yang dirancang dijual murah justru kurang diminati sehingga ia harus membatalkan kelanjutan bisnisnya.

Masih di bidang makanan, ia mulai mengembangkan makanan ringan dua bulan kemudian. Apalagi ia menjual produk tersebut di lingkungan kampus sehingga diharapkan mahasiswa atau masyarakat sekitar menikmatinya. Ia memiliki toko di Cipadu, Tangerang Selatan.

IMG_20150809_151814

“Saya tetap memakai nama merek Steak Kotak Kingdom di usaha yang baru. Tidak ada alasan spesifik memakai nama itu. Saya spontan saja membuatnya,” katanya.

Ia lantas membuat usaha makanan ringan dengan merek yang sama, Steak Kotak Kingdom. Ia berharap masyarakat akan melirik usahanya tersebut karena namanya unik. “Dari jauh akan kelihatan aneh. Steak kok memakai botol. Padahal ini makanan ringan yang ditaruh dalam kemasan,” katanya.

Kebetulan Andy menjadi dosen mata kuliah New Product Development dan Creative Marketing di Sekolah Bisnis Umar Usman, Pejaten. Ia lantas menerapkan mata kuliah tersebut ke praktik langsung kepada anak didiknya.

IMG_20150909_111723

Ia menjadi pendiri dan pemilik Steak Kotak Kingdom dengan mengeluarkan modal sekitar Rp 10 juta. Beberapa masyarakat sekitar atau mahasiswanya dilibatkan menjadi pemasok atau pembuat makanan ringan yang dijualnya.

Ia berharap masyarakat sekitar dan mahasiswa sekitar kampus menggemari makanan ringan yang murah. Apalagi produk tersebut dirancang untuk segala usia. “Dalam tiga bulan sudah balik modal dan sudah ada keuntungan,” katanya.

IMG_20150906_132459

Jenis produk yang dijual di Steak Kotak Kingdom yaitu aneka keripik yang disebut pepedesan. Produk ini meliputi keripik singkong, makaroni goreng, mie, telur gabus, emping melinjo, dan pangsit. Lalu ada juga coklat jar yang terdiri atas coklat padat yang dimodifikasi dengan berbagai macam isi, seperti comel atau choco melt yang terdiri atas coklat, rice crispy dan ditaruh dalam toples. Becex yakni brownis dengan inovasi cream, monster yakni jagung dioles madu, coklat dan ditabur susu. Art Cookies yakni aneka kue yang dihias sesuai kemasan unik serta comelt sarang burung yaitu coklat jar yang berisi dry noodle dan lelehan coklat.

Dengan menjual makanan ringan tersebut, omzetnya mencapai Rp 30 juta. Bahkan bisa mencapai dua kali lipat saat hari raya dan libur sekolah. “Strategi branding penamaan menjadi salah satu pemicu lonjakan produk sampai saya dipanggil Bos Comel (salah satu nama produknya),” katanya.

Untuk memerluas jaringan, ia pun menjual produk secara online. Bahkan penjualannya kini sudah menembus pasar Malaysia, Singapura, dan Thailand. Penjualan tersebut mampu memangkas ongkos sewa tempat yang dianggap mahal.

Ia menilai, pemilihan toko online lebih tepat saat ini. Ia juga memerluas penjualan melalui media online di Facebook, Instagram, dan Path. “Kalau pemasaran online akan lebih hemat dan lebih luas jaringannya. Ada beberapa teman yang saya kontak, mereka oke membuka cabang di sana. Tapi saat ini on process,” katanya.

IMG_20150825_161243

Sempat Dilarang Jadi Pengusaha

Berbisnis tak selalu mulus karena setiap halangan dan tentangan pasti menyertai. Itu pula dilakoni Andy Setyawan dengan bisnis makanan ringannya.

Berbekal lulusan S2 Ketahanan Nasional Universitas Indonesia (UI), orang tua tentu mengharapkan sang anak mampu bekerja di kantor elit dengan penghasilan tinggi atau menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Namun pria kelahiran Jakarta, 27 Juni 1987 ini justru semangat menggelora berwirausaha. Pilihan hidupnya tersebut akhirnya mendapat tentangan dari orang tua.

Andy menganggap pilihannya berwirausaha sudah tepat dan hanya perlu belajar dari kegagalan yang diterimanya saat mendirikan usaha. “Kegagalan awal berbisnis menjadi pemacu untuk belajar lebih baik. Saya juga bisa mengaplikasikan ilmu yang saya peroleh dan saya ajarkan dari kampus,” katanya.

Kini ia mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat di sekitarnya. Hingga kini, Steak Kotak Kingdom memiliki 50 lebih reseller tetap dan 200 orang menjadi reseller tidak tetap. Lima orang karyawan produksi pun akan terus ditambah seiring perkembangan usaha.

Misi ini tidak muluk karena seiring dengan omzet yang cukup baik dan strategi bisnis yang tepat. Ia juga berencana membuka pabrik khusus makanan ringan. Pabrik ini akan menyerap tenaga kerja lebih baik dari saat ini dan visi misi untuk turut membantu warga sekitar.

Dalam berbisnis, ia menganggap karyawannya tak sekadar bekerja, tapi menimba ilmu melalui Steak Kotak Kingdom Youth Empowerment Program. Karyawan bisa mengetahui cara mendirikan sebuah usaha dan managemen bisnis. Ia berharap generasi muda mau bergabung untuk berbisnis. Dalam sistem pembayarannya, karyawan tidak diberikan gaji melainkan bagi hasil. “Kalau karyawan keluar dari Steak Kotak Kingdom, mereka bisa berusaha dan berbisnis sendiri,” katanya.

Program ini diharapkan bisa menjadi lahan menimba ilmu bagi pemuda sekitar. Bagi mahasiswa atau masyarakat yang hendak praktik ilmu berbisnis, ia juga menyediakan tempatnya dengan istilah laboraturium bisnis. Di sini masyarakat bisa berbisnis dan menjalankan tanggung jawab menjadi pendidik.

IMG_20150926_171151_HDR

Nama: Andy Setyawan

TTL: Jakarta 27 Juni 1987

Pendidikan: S1 Filsafat Fakultas Ilmu Bahasa (FIB) Universitas Indonesia (UI), paska sarjana Katahanan Nasional UI.

Domisili: Cipadu, Tangerang Selatan

Pekerjaan: Dosen di Umar Usman Business School

By Didik Purwanto

Copywriter | Ghost Writer | ex Business Journalist | Farmer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *