Twitter Vs Facebook.png

Twitter-Vs-Facebook.png-600x338

Twitter dinilai tak mampu mendongkrak jumlah pengguna meski telah merilis layanan baru.

Sejak kembali ke Twitter Inc Juli lalu, CEO Twitter Jack Dorsey membuat perubahan dramatis di perusahaan dan menjanjikan layanan lebih.

Namun fitur baru yang dirilis Rabu waktu setempat justru tidak berhasil mendongkrak saham perusahaan, apalagi mendongkrak basis pengguna.

Analis mengatakan, harga saham Twitter yang telah mencapai rekor terendah tidak mungkin naik hingga perusahaan mampu menunjukkan kenaikan jumlah pengguna.

“Mereka sudah menjadi perusahaan publik cukup lama. Mereka seharusnya mampu meningkatkan basis penguna dan memerbaiki banyak masalah produk untuk menarik khalayak yang lebih besar,” kata analis Topeka Capital Markets Blake Harper.

Dalam surat kepada pemegang saham yang diberikan Rabu, Twitter melaporkan pertumbuhan 11 persen pengguna aktif bulanan pada kuartal III-2015 menjadi 320 juta orang, pertumbuhan paling lambat sejak perusahaan go public pada 2013.

Kinerja perusahaan memicu saham terus tertekan bahkan kehilangan dua per tiga sejak setahun terakhir. Analis memerkirakan Twitter melaporkan laba 12 sen per saham dengan pendapatan US$ 709 juta.

Investor pun masih memertanyakan sikap mendua Dorsey yang kini juga memimpin Square Inc. Saat kembali memimpin Twitter, ia sempat memangkas lebih dari 300 karyawan dan merekrut mantan eksekutif Google Omid Kordestani sebagai ketua eksekutif.

Hingga kini, perilisan layanan baru seperti Moments, mengubah antarmuka layanan, hingga memerluas batasan cuitan lebih dari 140 karakter tak mendongkrak bisnis perusahaan. Ada juga keinginan mendorong Twitter memberikan layanan seperti Facebook.

Namun layanan tersebut dinilai negatif oleh penggunanya, bahkan penguna sempat menjadikan cuitan “RIPTwitter” sebagai trending topic dunia.

Pengiklan pun kecewa dengan kegagalan mendongkrak basis pengguna meski bos Twitter menjanjikan perubahan.

Dalam suratnya ke pemegang saham, Dorsey akan memfokuskan jumlah pengguna. Salah satu strateginya berniat membuat situs jejaring lebih mudah digunakan.

Selama ini pengguna mengaku kesulitan, khususnya menambah teman baru karena layanan begitu kompleks. “Kami memiliki beberapa aturan yang benar-benar aneh,” demikian pengakuan Dorsey.

Sumber: Reuters

By Didik Purwanto

Copywriter | Ghost Writer | ex Business Journalist | Farmer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *