Tips Kaya dan Terkenal Sebagai Pengusaha Digital

Ingatkah ketika Presiden Joko Widodo menanyakan kepada seorang anak tentang cita-citanya di masa depan?

Sang anak tersebut menjawab dengan yakin,”Saya mau jadi YouTuber pak!”

Mungkin Presiden agak kaget mendengar jawaban sang anak. Biasanya, anak seusia mereka selalu menjawab ingin menjadi dokter, tentara, pilot atau pekerjaan yang menjanjikan lainnya.

Dari kanan: Chairman & BoD Endeavor Indonesia Harun Hajadi, Pendiri dan CEO Qlue Rama Raditya, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Co-Founder Tokopedia Leontinus Alpha Edison, dan Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho selepas acara talkshow Smart Citizen Day 2019 di The Tribatra, Jakarta, Kamis (28/3). Foto: Didik Purwanto

Namun di masa kini, YouTuber menjadi salah satu pekerjaan menjanjikan. Bahkan tidak memerlukan pendidikan tinggi untuk meraihnya.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara bilang, anak muda zaman sekarang jangan cuma diarahkan menjadi pekerja, tetapi bisa diarahkan menjadi pengusaha.

“Walaupun tingkat kesuksesan pengusaha rintisan (start-up) cuma 5 persen, tapi itu tidak masalah,” ujar Rudiantara yang akrab disapa Chief RA saat Smart Citizen Day di The Tribrata, Kamis (28/3).

Saat ditanya apakah YouTuber masuk sebagai pengusaha? Chief RA langsung mengiyakan karena memanfaatkan layanan digital.

“Penghasilan (dari pekerjaan sebagai) YouTuber bisa miliaran rupiah. Memang itu rezekinya,” kata Chief RA.

Namun, Chief RA meyakinkan menjadi YouTuber tidaklah mudah seperti membalikkan telapak tangan. Dia pernah ngobrol dengan Ria Ricis.

Untuk menjadi YouTuber perempuan pertama di Indonesia dengan subscriber terbanyak, Ria Ricis bahkan memiliki tim khusus untuk menciptakan konten, termasuk tim untuk mengunggah konten yang disesuaikan dengan pasar yang disasar. Tak ayal, pendapatan Ria Ricis sekarang sekitar Rp 2,6 miliar hingga Rp 43 miliar per tahun.

“Kalau umur sekian, harus jam berapa nonton dan konten apa yang ditayangkan. Begitu juga kalau yang dewasa suka nonton apa dan sering nonton jam berapa,” katanya.

Chief RA tidak mempermasalahkan pekerjaan yang diminati anak muda zaman sekarang. “Namun yang penting, anak zaman sekarang jangan cuma sebagai pengguna teknologi, tapi harus memanfaatkan teknologi untuk menciptakan pengusaha digital di masa depan,” katanya.

Pendiri dan CEO Qlue Rama Raditya mengatakan, penciptaan aplikasi Qlue berasal dari keluhan akibat kerusakan jalan di rumah tidak segera dibereskan pemerintah.

“Biasanya, lapor pemerintah juga lama ditindaklanjuti, apalagi saya juga bingung mau lapor ke mana,” kata Rama.

Berbekal dengan pola pikir tersebut, ia menciptakan aplikasi yang mampu menghubungkan keluhan masyarakat terhadap pemerintah. Ia menyampaikan kepada Joko Widodo yang  saat itu masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

“Saya beranikan berbicara dengan pak Jokowi. Saya bilang punya solusi untuk memetakan masalah di Jakarta secara cepat. Selain itu, ini bisa menjadi akuntabilitas pejabat setempat. Akhirnya pak Jokowi mengiyakan dan bilang ini sesuatu yang kami butuhkan untuk Jakarta,” kenangnya.

Qlue yang berdiri sejak 12 Februari 2016 ini mendorong partisipasi aktif warga sekaligus membantu pemerintah kota, daerah, hingga kabupaten untuk memperbaiki lingkungannya.

Aplikasi yang kini telah dipakai sekitar 15 kota atau kabupaten ini unggul karena melibatkan partisipasi warga dalam membangun kota cerdas, khususnya melaporkan hal-hal yang tidak beres, seperti kerusakan fasilitas umum, parkir liar, kriminalitas, hingga masalah sampah.

Bahkan DKI Jakarta yang dilanjutkan kepemimpinannya oleh Basuki Tjahaja Purnama membuat Peraturan Gubernur yang akan memangkas tunjangan pejabat jika tidak segera menindaklanjuti laporan dari masyarakat.

“Kami bukan mengubah teknologi, tapi hanya mengubah pola pikir masyarakat untuk menjadi agen perubahan,” katanya.

Rama menyarankan agar anak muda zaman sekarang jangan mudah putus asa. Menjadi seorang pengusaha, terutama digital tidaklah mudah. “Intinya bisa menyelesaikan sebuah masalah di sekitar,” ujarnya.

Chairman & BoD Endeavor Indonesia Harun Hajadi mengatakan, mengubah pola pikir masyarakat itu paling susah. Dulu anak-anak selalu mencita-citakan dokter, pilot, atau tentara sebagai pekerjaan idaman di masa depan. Cita-cita menjadi pengusaha selalu menjadi opsi terakhir.

Namun, Harun tidak mempermasalahkan anak-anak zaman sekarang untuk menjadi apa di masa depan. Ada yang menginginkan bekerja di pemerintahan (sebagai pegawai negeri sipil/PNS) atau pun bahkan menjadi pengusaha digital, seperti Tokopedia atau bahkan Qlue.

“Semua orang itu unik. Namun, kalau semua mau jadi pengusaha, siapa yang mau menjadi pekerja,” ujar Harun.

Harun mengharapkan apa pun pekerjaan yang diinginkan di masa mendatang akan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.

“Silakan beraktualisasi diri. Apapun (pekerjaan impian di masa depan) sudah ada success story-nya, asal smua jadi smart citizen (warga yang cerdas) dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar,” katanya.

Penulis mengikuti Smart Citizen Day 2019 di The Tribatra, Jakarta, Kamis (28/3). Foto: Saiful Nursasi

Share This :

Ditopuccino: @ditopuccino TechBuzz Thinker ! Cappuccino Lover