Asuransi Syariah, Perlukah?

Sebagai salah satu negara berpenduduk Muslim terbesar dunia, Indonesia memiliki potensi ekonomi syariah yang besar. Namun, potensi tersebut belum termanfaatkan maksimal.

Masalahnya, penetrasi keuangan syariah di Indonesia baru sebesar 11,06 persen dari total penduduk. Artinya, hanya 11 orang dari 100 orang yang memakai layanan keuangan syariah.

Jika dirinci berdasarkan sektor, penetrasi syariah untuk industri keuangan non-bank sangat rendah. Misalnya, penetrasi industri asurasi syariah yang hanya 1,92 persen. Artinya lagi, hanya 1 orang dari 100 orang yang memakai asuransi syariah.

Ini pasti ada yang salah. Banyak penduduk Muslimnya tapi masih ogah pakai produk syariah.

Beruntung saya mendapat kesempatan untuk mengikuti Rembuk Republik yang diadakan Republika di Hotel JS Luwansa di Jakarta, Senin (14/5). Tema kali ini tentang “Memacu Inklusi Keuangan Syariah”.

Prudential Indonesia, PRUlink Syariah, Jens Reisch, Republika, Ekonomi Syariah, Keuangan Syariah

Narasumber Rembuk Republik di Hotel JS Luwansa di Jakarta, Senin (14/5). Foto: Dokumen Prudential

 

Dari kegiatan ini, saya bisa belajar tentang perekonomian syariah, potensi, manfaat hingga peluang di masa depan. Siapa tahu bisa berkecimpung di dalamnya, termasuk bisa membesarkannya serta mendapat manfaat dari keuangan syariah.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin mengatakan, ekonomi syariah dapat mendukung perkembangan ekonomi umat. Saya cukup tercengang dengan pernyataan beliau yang mengatakan, lembaga keuangan syariah di Indonesia itu begitu banyak.

Namun, kata dia, ekonomi syariah diibaratkan sebagai mobil. Mobil yang dijual di Indonesia itu begitu banyak, tapi ternyata minim penumpang.

Loh kok bisa? Mobilnya tidak bagus atau penumpangnya yang tidak mau naik mobil? Penumpang hanya mau naik sepeda motor atau berjalan kaki?

Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan, pernah mendapat tawaran dari agen asuransi syariah saat menjadi Dekan di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Meski sudah tahu tentang ekonomi syariah, dia penasaran ingin mengetes agen asuransi syariah tersebut. Ternyata agen asuransi ini kesulitan menjelaskan keunggulan produk asuransi syariah dan konvensional.

Frustasi tidak segera mendapat kepastian, agen asuransi syariah ini langsung mendesak Bambang untuk menjadi nasabah. Pernyataannya cukup menohok tapi yang ditodong bakal terkejut dengan jawaban agen ini. “Bapak kan Muslim. Jadi seharusnya juga pakai asuransi syariah,” kata agen asuransi tersebut.

Apa tanggapan Anda jika mendapat pernyataan dari agen asuransi semacam itu? Anda kabur atau langsung mau menjadi nasabah?

Dari kejadian itu, bisa disimpulkan masyarakat masih banyak kurang memahami tentang produk keuangan syariah meski mayoritas penduduk Indonesia Muslim.

Mungkin ada juga yang mau menjadi nasabah produk keuangan syariah, baik di perbankan, koperasi, atau asuransi syariah. Namun, penyertaannya bakal terbatas, tidak maksimal.

Alias, kalau dipaksa membeli sesuatu, ya ini terpaksa karena penjualnya sama-sama Muslim atau kebetulan agennya masih saudara dekat. Ini yang bisa mengakibatkan keuangan syariah makin lambat berkembang di Indonesia.

Prudential Indonesia, PRUlink Syariah, Jens Reisch, Republika, Ekonomi Syariah, Keuangan Syariah

Peserta Rembuk Republika di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Senin (14/5). Foto: Didik Purwanto

 

Bambang mengatakan, inklusi keuangan syariah rendah di Indonesia diakibatkan akses masyarakat ke lembaga keuangan syariah masih susah. Ditambah lagi, masyarakat juga banyak yang kurang atau bahkan tidak paham produk keuangan syariah, apalagi asuransi dari Prudential Indonesia.

Pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla sadar betul besarnya potensi ekonomi syariah di Indonesia. Atas alasan itu pula, pemerintah membentuk Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) yang langsung dikomandoi Presiden Joko Widodo.

Untuk lebih membumikan keuangan syariah, Bambang mengatakan, produknya harus bisa dibeli oleh investor ritel atau masyarakat berpenghasilan rendah sekalipun.

Artinya, produk keuangan syariah bukan hanya untuk masyarakat kaya atau lembaga besar. Makanya pemerintah mengeluarkan surat utang syariah (sukuk) ritel. Indonesia, kata Bambang, menjadi satu-satunya negara yang mengeluarkan sukuk ritel untuk membiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Jadi, negara berutang kepada masyarakat. Dananya digunakan untuk membangun infrastruktur dan pembiayaan lainnya untuk menyejahterakan bangsa. Ini salah satu manfaat produk keuangan syariah.

“Selain imbal hasil (keuntungan) lebih tinggi dari deposito, sukuk ritel juga dijamin negara. Selain itu masyarakat yang membeli juga mendapat pahala karena membantu negara,” ujarnya.

Begitu juga lembaga Bank Wakaf Mikro yang memberikan pinjaman tanpa agunan dan bagi hasil yang kecil atau sama-sama menguntungkan kepada peminjam.

Selama ini, masyarakat terutama pedagang selalu meminjam uang kepada rentenir dengan bunga hingga 20 persen per hari. Artinya, pinjam dana Rp 1 juta, harus mengembalikan Rp 1,2 juta ke rentenir. Anehnya, model pinjaman seperti ini banyak terjadi di Indonesia dan banyak yang mau karena terpaksa.

Prudential Indonesia, PRUlink Syariah, Jens Reisch, Republika, Ekonomi Syariah, Keuangan Syariah

Hiburan musik saat Rembuk Republika di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Senin (14/5). Foto: Didik Purwanto

 

Dengan Bank Wakaf Mikro, kondisi itu akan berbalik. Peminjam akan mendapat dana dengan mudah dan bunga (istilah di keuangan syariah dengan bagi hasil) yang tidak mencekik.

Kekurangannya, Bank Wakaf Mikro masih terbatas dan belum banyak memiliki dana. Beda dengan perbankan konvensional yang memiliki dana murah dan dana mahal yang banyak sehingga bisa memberikan kredit lebih maksimal.

Harapannya, bank konvensional terutama yang memiliki unit bisnis syariah mulai melirik Bank Wakaf Mikro untuk menyalurkan dananya sehingga bisa memberikan manfaat untuk umat.

Begitu juga dengan asuransi syariah. Bambang mengatakan, inklusi keuangan syariah, tak terkecuali industri asuransi syariah bisa mengurangi kemiskinan dan ketimpangan di masyarakat.

Pemerintah memang telah merilis bantuan Program Keluarga Harapan (PKH), Kartu Indonesia Pintar, hingga Kartu Indonesia Sehat serta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) untuk asuransi jiwa dan BPJS Ketenagakerjaan untuk asuransi kerugian.

Namun, jika masyarakat memiliki asuransi Prulink Syariah untuk masa tua nanti, kehidupannya akan lebih berarti. Kita tak akan khawatir kalau sakit atau kena musibah.

Premi Prulink Syariah juga masih terjangkau masyarakat berpenghasilan rendah. Manfaat yang diterima masyarakat dengan asuransi dari Prudential Indonesia ini juga berlimpah. Jadi, hidup akan semakin berkah.

Soalnya, prinsip asuransi itu saling membantu. Dengan membayarkan premi setiap bulan, ibaratnya kita seperti sedekah ke setiap orang. Harapannya, semua berdoa untuk tetap sehat. Jadi tidak mengeluarkan banyak dana jika sampai dirawat.

Jika pun dirawat, kita tidak kesusahan membayar perawat dan menebus obat. Hidup pun serasa makin nikmat.

Presiden Direktur Prudential Indonesia Jens Reisch mengatakan, Prudential telah memiliki Prulink Syariah selama 10 tahun. Potensi membesarkan produk asuransi syariah masih besar di Indonesia.

Prudential Indonesia, PRUlink Syariah, Jens Reisch, Republika, Ekonomi Syariah, Keuangan Syariah

Presiden Direktur Prudential Indonesia Jens Reisch saat memberikan paparan tentang asuransi syariah di Indonesia di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Senin (14/5). Foto: Didik Purwanto

 

Prudential Indonesia lebih menyasar kalangan milenial untuk memberikan edukasi tentang pentingnya berasuransi, terutama asuransi syariah.

Jens Reisch mengatakan, produk keuangan syariah, tak terkecuali asuransi syariah sebenarnya tidak hanya untuk masyarakat Muslim, tapi lebih ke semua kalangan yang ingin menerima manfaat lebih banyak dan berkah.

Digitalisasi produk dan layanan akan makin dikembangkan seiring perkembangan teknologi. Kalangan milenial yang lebih melek teknologi akan haus informasi, tak terkecuali perkembangan dan manfaat asuransi syariah.

Prudential Indonesia memberikan produk investasi dan perlindungan secara lengkap bagi masyarakat untuk semua kebutuhan. Edukasi konsumen dan agen penjualan akan terus ditingkatkan.

“Prudential Indonesia akan terus mengedukasi kebaikan produk dan layanan keuangan syariah menuju penguatan ekonomi bangsa,” ujarnya.

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengharapkan sistem ekonomi syariah, tak terkecuali asuransi syariah, bisa berjalan baik dan berdampak ke pertumbuhan ekonomi negara. Masyarakat bisa mendapatkan hak dan manfaat yang adil, makmur, dan bisa hidup sejahtera. Amin.

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *