Tips Cerdas Bikin Start-up

Perusahaan rintisan (start-up) kini sedang naik daun. Bahkan, perusahaan pertambangan atau komoditas pun kalah saing dengan industri satu ini.

Perkembangan start-up, khususnya teknologi di Indonesia meningkat setiap tahun. Saat ini sudah lebih dari 230 start-up di Indonesia.

Acara Start-Up Report 2017 yang digelar DailySocial.id di Three Buns, Jakarta, Kamis (8/2). Foto: DailySocial.id

 

Bahkan, empat start-up yakni Go-Jek, Traveloka, Tokopedia, dan Bukalapak sudah berhasil menjadi start-up unicorn. Start-up tersebut mendapat investasi di atas US$ 1 miliar.

Terakhir, Go-Jek mendapatkan suntikan dana dari Google sekitar Rp 16 triliun dan Astra International sekitar Rp 2 triliun. Kini, total investasi di perusahaan yang didirikan Nadiem Makarim ini di atas US$ 1,2 miliar, termasuk investor Tencent, JD.com, Temasek, dan Meituan-Dianping.

Begitu juga dengan Tokopedia yang mendapatkan suntikan dari Alibaba Group sekitar US$ 1,1 miliar. Traveloka juga sudah diguyur investor sekitar US$ 500 juta dari Expedia.

Lantas, apakah investor kini mulai tertarik mendanai start-up yang sedang naik daun?

Chief Marketing Officer GDP Venture Danny Wirianto mengatakan, investor akan terus memperhatikan perkembangan teknologi dan ekosistem internet di Indonesia, sehingga dapat menjadi pedoman dalam mempertimbangkan keputusan berinvestasi.

Chief Marketing Officer GDP Venture Danny Wirianto saat di acara Start-Up Report 2017 yang digelar DailySocial.id di Three Buns, Jakarta (8/2). Foto: DailySocial.id

 

Namun, Danny memberikan tips cerdas kalau ingin membikin start-up yang berhasil dan dilirik investor, seperti 4 unicorn tersebut.

Pertama, apakah start-up yang kita bikin mampu membantu orang untuk menghasilkan duit?

Kedua, apakah start-up yang kita bikin mampu membantu orang untuk irit pengeluaran?

Ketiga, apakah start-up yang kita bikin mampu membantu orang untuk hemat waktu?

Keempat, apakah start-up yang kita bikin memiliki ekosistem sehingga saling tergantung dengan lainnya.

Danny mencontohkan, start-up Go-Jek yang mampu menjawab empat pertanyaan tersebut. Go-Jek bisa menghasilkan duit, irit pengeluaran bagi konsumen, hemat waktu saat berkendara, dan memiliki ekosistem berupa sopir ojek, restoran yang menjual makanan, hingga layanan lain yang mampu memenuhi kebutuhan konsumen.

Begitu juga dengan Traveloka yang mampu menghasilkan duit bagi yang mampu menjual tiket ke orang lain. Konsumen juga bisa dapat diskon lebih.

Konsumen juga bisa hemat waktu karena tidak perlu lagi ke agen perjalanan untuk memesan tiket maskapai atau memesan hotel. Ekosistem pun tersedia mulai dari tiket penerbangan dari maskapai, tiket hotel, hingga tiket kereta. Bahkan Traveloka kini juga menyediakan layanan pembelian pulsa.

“Empat pertanyaan itu bisa jadi pedoman saat membuat start-up. Kalau bisa terjawab semua pertanyaan itu, berarti kamu siap membuat start-up,” ujar Danny.

Kendati bisa menjawab empat kriteria di atas, bukan berarti start-up tersebut siap menjadi unicorn (start-up yang mampu menghasilkan investasi di atas US$ 1 miliar).

Danny mengingatkan, start-up baru tidak salah untuk mengejar valuasi aset, tapi yang harus diperhatikan start-up perlu menghasilkan keuntungan usaha.

CEO DailySocial.id Rama Mamuaya mengatakan, sekitar 95 persen start-up gagal kurang dari tiga tahun operasionalnya dan hanya 5 persen yang mampu bertahan di atas tiga tahun.

“Namun ini bukan stat-up zombie ya, tapi start-up yang benar-benar bergerak menghasilkan untung,” kata Rama.

CEO DailySocial.id Rama Mamuaya saat acara Start-Up Report 2017 yang digelar DailySocial.id di Three Buns, Jakarta (8/2). Foto: DailySocial.id

 

Menurut Rama, selain empat kriteria di atas untuk mendirikan start-up, kalian juga harus mampu menjawab pertanyaan apakah usaha tersebut mampu menyelesaikan masalah hingga jutaan orang?

Jelas, start-up yang kini menjadi unicorn di Indonesia mampu menyelesaikan masalah, terutama kemacetan (Go-Jek), pembelian tiket (Traveloka), pembelian barang dan menciptakan pengusaha digital baru seperti Tokopedia dan Bukalapak.

Namun, kata Rama, start-up bisa dikatakan berhasil jika mampu beradaptasi dengan lingkungan, terutama perkembangan teknologi.

Bisa dicontoh perusahaan Snapchat yang kini malah kalah saing dengan Instagram milik Facebook atau Twitter yang baru menghasilkan untung sekitar 4 tahun setelah penawaran saham perdana (IPO) pada 2013?

“Seperti yang dikatakan Charles Darwin, yang bisa hidup berkelanjutan bukan hanya yang paling kuat atau yang punya dana banyak, tapi yang bisa beradaptasi dengan perubahan yang begitu cepat,” kata Rama.

DailySocial.id, salah satu anak perusahaan GDP Venture di bawah bendera MerahPutih Incubator, setiap tahun mengumpulkan informasi mengenai ekosistem industri teknologi di Indonesia dan mengemas dalam laporan singkat. Harapannya, dapat membantu pemegang keputusan melihat gambar besar pergerakan industri di Indonesia.

Dalam Start-up Report 2017 yang dapat diunduh di sini, DailySocial.id memperkirakan start-up sektor teknologi finansial (fintech), media, dan kesehatan akan berpotensi paling berkembang pesat di tahun ini.

Bisnis perdagangan digital (e-commerce) akan tetap tumbuh di tahun ini walaupun jumlahnya semakin sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Tapi e-commerce yang sudah ada akan semakin besar dan akan banyak bermunculan start-up e-commerce yang bermain di ceruk sempit (niche),” ujarnya.

Di Indonesia, Tokopedia dan Bukalapak menguasai pasar start-up e-commerce lokal. Namun, menariknya e-commerce Shopee asal Singapura berhasil merangsek di nomor dua e-commerce lokal. Padahal tahun lalu masih di 10 besar.

Ini beda dengan e-commerce Carousell yang menguasai pasar Singapura dan Lazada yang menguasai pasar Thailand dan Vietnam.

“Shopee berhasil masuk nomor dua di Indonesia, Thailand, dan Vietnam karena tahun lalu cukup agresif promosi,” ujarnya.

Di pasar produk uang elektronik (e-money), Go-Pay menguasai 50 persen e-money lokal, disusul e-money dari Bank Mandiri, tcash dari Telkomsel, Flazz dari BCA, LinePay dari Line, OVO dari Lippo, Brizzi dari BRI, dan lainnya.

Di layanan peer-to-peer (P2P) pinjaman, adopsi start-up ini masih rendah di Tanah Air meski trennya terus meningkat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, sekitar 250 orang telah terbantu layanan P2P ini.

Sekitar 30 P2P start-up telah menggelontorkan pinjaman Rp 2,6 triliun hingga Januari 2018. Angka tersebut melonjak drastis dari Rp 247 miliar pada 2016.

Dari sisi pendanaan, DailySocial.id dalam laporannya menyatakan, industri teknologi keuangan (fintech), e-commerce, dan media masih mendominasi target investor.

Di perusahaan media muncul Kumparan, IDN Times, Katadata, serta DailySocial.id. “Apalagi tahun ini dan tahun depan masuk tahun politik. Duit dari pemerintah dan pejabat pasti menyebar,” katanya.

Dari sisi asal pendanaan, start-up Tanah Air banyak dibantu investor lokal (54,55 persen), disusul dari Amerika Serikat (14,29 persen), Singapura (10,39 persen), dan China (7,14 persen).

“Investasi dari China tahun lalu melonjak seturut Alibaba yang investasi di e-commerce lokal,” ujarnya.

Namun, di tengah lonjakan investasi ke perusahaan rintisan (start-up), muncul juga kendala seperti sumber daya manusia (SDM) yang masih berpusat di kota besar, khususnya Jakarta.

Belum lagi regulasi pemerintah yang banyak menekan start-up yang baru tumbuh. “Sebenarnya kita tidak perlu dibantu. Cukup tinggalkan kami sendiri dulu. Tidak perlu direcokin, diamkan saja,” ujar Rama.

Rama mengingatkan, tugas pemerintah mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi e-commerce lokal agar mampu bersaing dengan asing.

Selain itu, start-up lokal masih terkendala ketidakcocokan antara investor dan pendiri. Banyak yang bilang investor susah mencari start-up yang cocok dan prospek. Namun, banyak juga start-up yang justru belum siap disuntik dana. “Jadi tidak nyambung,” katanya.

Belum lagi, paradoks unicorn yang banyak terpusat di Jakarta meski kini mulai tersebar ke daerah. Padahal, kata Rama, berkaca dari transaksi Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) tahun 2015, transaksi banyak dilakukan dari di luar Jakarta.

Jadi, siapkah kalian membuat start-up baru?

Share This :

One comment to “Tips Cerdas Bikin Start-up”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *