2.043 Miliuner Kuasai Kekayaan Dunia

Organisasi nirlaba Oxfam menyatakan, satu persen orang terkaya menguasai 82 persen kekayaan di dunia yang diciptakan tahun lalu. Namun, separuh penduduk termiskin tidak memiliki apapun.

Kekayaan miliuner telah tumbuh enam kali lebih cepat dibandingkan pekerja biasa sejak 2010. Miliuner seperti dicetak setiap dua hari antara Maret 2016 dan Maret 2017.

Beberapa orang terkaya di dunia. Foto: Wealthy Gorilla

 

Oxfam menggunakan temuannya untuk menggambarkan ekonomi global. Beberapa orang terkaya mengumpulkan kekayaan yang semakin besar sementara ratusan juta orang berjuang untuk bertahan dalam kemiskinan.

“Ledakan miliuner bukanlah tanda ekonomi berkembang tetapi gejala dari sistem ekonomi yang gagal,” kata Direktur Eksekutif Oxfam Winnie Byanyima dalam sebuah pernyataan.

Oxfam juga menekankan nasib pekerja perempuan, yang secara konsisten menghasilkan gaji lebih sedikit dari laki-laki. Pekerjaan perempuan juga dianggap lebih rendah dan paling tidak aman. “Sembilan dari 10 miliuner adalah laki-laki,” katanya.

Oxfam menyebut, ada 2.043 miliuner di seluruh dunia. Rata-rata kekayaan mereka berasal dari warisan, monopoli, dan kronisme. Rata-rata kekayaan mereka naik 13 persen per tahun sejak 2006.

Selain itu, 42 orang kaya tersebut memiliki kekayaan yang sama dengan 3,7 miliar orang miskin. Sejak 2015, sekitar satu persen orang terkaya memiliki jumlah kekayaan dari 99 persen orang di dunia.

“Namun satu persen orang terkaya di dunia menghindari pajak tahunan sekitar US$ 200 miliar,”┬ákata laporan tersebut.

Laporan tersebut menggunakan data dari Credit Suisse untuk membandingkan tingkat pengembalian eksekutif puncak dan pemegang saham dengan pekerja biasa.

Beberapa orang terkaya di dunia. Foto: Indian Express

 

Ditemukan dalam laporan itu, pemimpin bisnis dari lima merek fesyen global terkemuka mampu dibuat dalam empat hari dengan mempekerjakan buruh garmen di Bangladesh seumur hidup.

“Orang-orang yang membuat pakaian itu, merakit telepon, dan menumbuhkan makanan dieksploitasi untuk memastikan persediaan barang murah dan menaikkan keuntungan perusahaan sekaligus pemmilik bisnis,” kata Byanyima.

Untuk melawan peningkatan ketidaksetaraan, Oxfam meminta pemerintah membatasi tingkat pengembalian pemegang saham dan eksekutif puncak, menutup kesenjangan gaji gender, tindakan keras penghindaran pajak, dan peningkatan pengeluaran untuk layanan kesehatan dan pendidikan.

Studi ini dirilis menjelang pertemuan tokoh politik dan pebisnis terkemuka di Forum Ekonomi Dunia di Swiss. Tahun ini mereka akan fokus bagaimana menciptakan masa depan bersama di dunia yang retak.

“Sulit menemukan pemimpin politik atau bisnis yang tidak mengatakan mereka khawatir tentang ketidaksetaraan,” kata Byanyima.

“Lebih sulit menemukan orang yang melakukan sesuatu tentang hal itu. Banyak yang secara aktif membuat keadaan menjadi lebih buruk dengan mengurangi pajak dan menghapus hak-hak buruh.”

Demonstran Oxfam Prancis menunjukkan poster bertuliskan “Lawan Ketidaksamaan, Atasi Kemiskinan” di Place de la Republique (Republic Square), Paris, Senin (22/1). afp/eric feferberg

 

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *