Trik Fotografi Mainan dengan Ponsel

Ponsel kini tidak hanya digunakan sebagai alat komunikasi, tetapi sudah mampu digunakan untuk memotret obyek, bahkan hingga ukuran mini. Tak terkecuali mainan unik berbentuk mungil.

Kelas Blogger ke-15 kali ini diadakan di halaman gedung Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Sabtu (26/4). Temanya sangat unik, fotografi mainan. Kali ini aku tidak tunggu waktu untuk daftar karena temanya unik dan aku harus belajar.

Acara kelas blogger ke-15 dengan materi toy photography by @MateTampan. Foto: Didik Purwanto

 

Apalagi setelah melihat pematerinya (IG:@matetampan), aku kagum melihat foto-foto hasil karyanya. Foto mainan seperti itu bisa dikreasi hingga dramatis. Yang melihat tentu bertanya, kok bisa dibikin seperti itu? Caranya bagaimana? Pakai alat apa? Kameranya apa?

Pertanyaan itu selalu ditanyakan pengguna. Padahal, yang terpenting itu man behind the gun. Perangkat ponsel tak akan berguna jika pemiliknya tak mengerti alatnya. Iya kan?

Fotografi mainan sebenarnya sudah banyak dilakukan fotografer luar. Namun di Indonesia, pemain di ceruk ini seakan masih minim atau mungkin aku masih kurang tahu mengenai komunitas tersebut.

Biasanya, fotografer lebih mencari keuntungan dengan memotret produk-produk yang bernilai materi, misalnya makanan, produk, fesyen, gadget, hingga urusan traveling.

Peserta kelas blogger antusias menyimak paparan dari MateTampan. Foto: Didik Purwanto

Menurut Mate, fotografi mainan berawal dari fotografi produk yang sama-sama digunakan untuk menunjukkan kelebihan produk sesuai karakternya. Bedanya, fotografi mainan juga bisa memberikan sentuhan emosi.

Lantas, bagaimana caranya sebuah mainan bisa menguras emosi?

Mate mengatakan, sebuah mainan bisa menguras emosi dengan membuat kisah pada foto yang kita potret, bisa sedih, bahagia, tertawa, senyum, menangis serta efek-efek dramatis lainnya. “Buatlah mainan seperti benda hidup dengan menyelipkan kisah,” ujarnya.

Untuk bisa memotret kisah itu, tentukan lokasi dan sudut pengambilan memotretnya. Lokasi pemotretan disesuaikan dengan karakter mainan, bisa di luar ruangan ataupun dalam ruangan.

Untuk di luar ruangan biasanya bisa memberikan latar lebih luas dan sudut pengambilan lebih bebas. Unsur-unsur tanah, air, kayu, batu, rumput, dan lainnya bisa menambah kesan dramatis pada fotografi mainan ini.

Mainan lego yang dipotret mode auto dengan Oppo F3 Plus. Foto: Didik Purwanto

Untuk menghasilkan foto dramatis, usahakan memotret mainan dengan berbagai sudut (angle), mulai dari kanan, kiri, atas, bawah. Sudut ini akan memberikan beragam pandangan tentang obyek sehingga memberikan kesan dramatis berbeda.

Demi mempercantik foto, padukan kisah, lokasi, dan sudut pemotretan dengan format foto (horizontal atau vertikal), kedalaman foto (depth of field experience), serta komparasi dengan benda sekitarnya. Untuk kedalaman foto juga bisa mempergunakan lensa tele. Apalagi sekarang kan banyak yang menjual lensa tele untuk ponsel.

Berhubung kelas ini bertema fotografi mainan dengan ponsel, jadi pahami ponsel milikmu sebelum memotret. Kenali fitur-fitur kamera ponsel dan jangan asal jepret. Hehehe..

Foto bareng peserta Kelas Blogger ke-15. Foto: Dokumen panitia Kelas Blogger

Selain itu, yang tak kalah penting juga pencahayaan alami. Usahakan memotret obyek saat sinar matahari sedang bagus, khususnya pukul 8-11 siang dan pukul 15-17.30 sore. Untuk di dalam ruangan, bisa dibantu dengan cahaya tambahan, seperti lampu atau flash.

Untuk aplikasi mengedit foto, Mate mempersilakan sesuai kreativitas dan selera pengguna. Ada yang suka foto alami (setelah jepret langsung unggah), tetapi ada juga yang senang menambahkan efek agar lebih menambah kesan dramatisnya. Misalnya PicSay Pro, Snapseed, Pixlr-O-Matic dan lainnya.

Ujungngnya, tetap kreativitas pengguna menjadi yang utama. Alat ponsel hanya bantuan. Perbanyak membaca buku, menonton film, baca komik, dan melihat kehidupan sehari-hari untuk mendapatkan ide membidik foto mainan.

Sebenarnya, aku lebih terkesan dengan mainan yang dipotret Mate dalam akun instagramnya. Mainannya lucu, dengan bagian tubuh yang bisa dibengkokkan seperti manusia.

Mainan SHF milik Mate. Foto: Didik Purwanto

Sebelum kelas ini, sebenarnya juga diharapkan membawa mainan sendiri. Aku sempat googling mainan tersebut dan bertanya ke teman. Ternyata mainan yang dimiliki Mate berkategori simple heroic figure (SHF).

Akhirnya aku sempat belanja lima mobil-mobilan. Sejak kecil, memang aku senang mainan ini, meski ternyata tidak aku gunakan saat kelas tersebut.

Mainan mobil-mobilan mini banget milik Mate. Difoto dengan Oppo F3 Plus. Foto: Didik Purwanto

Beruntung Mate sudah mempersiapkan mainan dari lego dan Polidhouse untuk dipotret bergantian. Peserta kelas blogger juga diminta mengunggah hasil bidikan fotografi mainan ke akun Instagram masing-masing dengan menyebut @bricksindonesia @polidhouse serta tanda pagar #bricksindonesia #polidhouse. Kalian bisa cek juga di #kelasblogger15.

Aku pun sempat meminjam mainan SHF milik Mate dan belajar memotret dengan ponsel OPPO F3 Plus, hadiah ulang tahunku dari OPPO. Haha…thanks mas Aryo dan tim OPPO yang juga kebetulan hadir di kelas kemarin. Btw, aku naksir mainan boneka Ollie-nya tapi tidak boleh dibawa pulang 🙂

Boneka Ollie dari Oppo. Difoto dengan Oppo F3 Plus. Foto: Didik Purwanto

 

Sebagai gantinya, Mate memberikan lego Tiger (banyak yang bilang itu mainan kucing bahkan anjing) yang belum dirakit. Sampai sekarang juga belum merakit..hahaha..

Ntar deh sekalian mau berburu mainan lagi dan belajar menerapkan ilmu yang diberi MateTampan di kala waktu luang. Selamat bermain dan memotret, teman!

Foto bareng peserta Kelas Blogger ke-15 menggunakan Oppo F3 Plus. Foto: Aryo Oppo

Share This :

Ditopuccino: @ditopuccino TechBuzz Thinker ! Cappuccino Lover

View Comments (4)