Dengan Puisi Melawan Tirani

Poster film Istirahatlah Kata-Kata. Sumber foto: YouTube

Untaian kata ternyata mampu mendobrak penguasa. Tak terkecuali, susunan kata dalam bait puisi yang diracik Wiji Thukul.

Mungkin banyak bertanya, siapa Wiji Thukul? Mengapa puisinya mampu membangkitkan semangat anak muda hingga mampu terlibat dalam aksi menuntut perubahan orde lama?

Wiji Thukul seorang penyair dengan mata kanan buta akibat dipopor senapan militer. Ia yang lahir 26 Agustus 1966 ini mampu membuktikan kata-kata dapat menjadi mimpi buruk bagi penguasa despotik.

Ia yang lahir di Solo sempat lulus dari SMP dan melanjutkan ke Sekolah Menengah Karawitan Indonesia meski tidak lulus. Kegemaran Wiji yang sejak SD suka menulis puisi dilanjutkan dengan giat di teater sejak SMP dengan mendirikan Teater Jagat (Jagalan Tengah).

Wiji lalu mulai mengamen puisi hingga keluar masuk kampung dan menyerap tarikan nafas kehidupan rakyat kecil. Puisi-puisinya tentang rakyat kecil berserakan di berbagai terbitan kampus, koran, dan majalah gerakan seperti Progres dan Tanah Air.

Dengan berbagai seniman, ia mendirikan Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (JAKKER) pada 1994. Tidak cukup dengan perlawanan seni, ia juga memprakarsasi pembentukan Partai Rakyat Demokratik (PRD) pada 1996.

PRD berada di barisan depan menuntut demokrasi. Deklarasi PRD 22 Juli 1996 menjadi penampilan terakhir Wiji di depan publik. Setelah meletus kerusuhan 27 Juli 1996 yang direkayasa militer, Wiji dan teman-temannya menjadi buronan hingga harus bersembunyi di Pontianak.

Salah satu mural berisi kata-kata dari Wiji Thukul di Solo, Jawa Tengah. Sumber foto: Portal Berita Bisnis Wisata

Film “Istirahatlah Kata-Kata” memotret kehidupan Wiji Thukul saat menjadi buronan di Pontianak. Ia digambarkan dengan kebingungan, apalagi dalam wilayah perantauan. Ia sempat berpindah-pindah di rumah teman demi menyembunyikan identitas aslinya.

Ia bahkan harus membuat KTP baru bernama Paul atas bantuan teman yang menjadi anak camat. Bahkan temannya sempat akan membantu Wiji jika berkeinginan melintas ke Kuching, Malaysia.

Film otobiografi memang berat karena menyuguhkan adegan lambat. Situasi dan kondisi era reformasi hanya menjadi latar belakang film, baik dari tulisan maupun suara dari penyiar radio.

Film ini pun miskin konflik karena hanya mengisahkan kesunyian dan keterasingan Wiji Thukul di Pontianak. Ia bahkan sampai kebingungan pulang ke Solo karena tak memiliki uang. Bekerja di pastorian pun kebingungan karena ia masih tak berani keluar sendirian.

Sepanjang satu setengah jam, film tersebut hanya mengisahkan kepiluan Wiji di Pontianak bersama teman-temannya. Di ujung film, Wiji sempat balik ke Solo dan mengajak Sipon, istrinya bertemu di sebuah hotel.

Namun Sipon dianggap pelacur oleh temannya yang memergoki masuk hotel. Padahal Sipon bertemu Wiji untuk menuntaskan kangennya sebagai suami istri. Dalam film tersebut Sipon menangis di depan Wiji.

Sipon beranggapan lebih baik Wiji tidak ada di hadapannya karena hanya akan menjadi buronan polisi. Tapi sebenarnya Sipon juga tidak ingin ia jauh dari Wiji. Akhirnya, ia menilai lebih baik Wiji Thukul ada (dalam sebuah karya) dibandingkan ada secara fisik tapi menimbulkan masalah.

Pada Maret 1998, serangkaian operasi penculikan dilakukan Tim Mawar Kopasus. Puluhan aktivis diculik, ditahan, dan disiksa di berbagai penjara tersembunyi. Sebagian dari mereka disiksa habis Tim Mawar, tetapi sebagian lagi tetap hilang tak berbekas. Dalam operasi penghilangan tersebut, Wiji Thukul turut lenyap hingga sekarang.

Film “Istirahatlah Kata-Kata menjadi pengingat bagi kita agar jangan lupa dengan nasib Wiji Thukul dan orang hilang.

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *