Bitcoin Dekati Level Tertinggi

Mata uang bitcoin sempat mendekati level tertingginya dan mulai mengalahkan performa emas. Sumber foto: freeformers

Mata uang bitcoin memiliki nilai tukar tertinggi pada perdagangan Kamis (5/1). Alat tukar ini menjadi sarana investasi paling aman (safe haven) baru di tengah ketidakpastian perekonomian.

Nilai Bitcoin Price Index mencatat, satu bitcoin setara US$ 1.100 (sekitar Rp 14,6 juta). Hal ini mendorong bitcoin sebagai mata uang berperforma terbaik tahun lalu.

Nilai kurs bitcoin yang dibentuk pada 2009 terus berfluktuasi dan pernah mencapai US$ 1.165,89 pada 2013. Namun pencurian bitcoin sebagai mata uang virtual pada Agustus lalu sempat memicu nilai tukarnya merosot hingga 20 persen.

Namun analis menyatakan, volatilitas akan terus terjadi seiring peningkatan volume dan penguatan dolar AS. Apalagi global terus mengetatkan mata uangnya, termasuk kontrol modal untuk menjaga perekonomian di masing-masing negara.

Misalnya, pembatasan pembelian mata uang asing di China memicu nilai tukar yuan terus merosot terhadap dolar AS. Hal ini justru memicu permintaan terhadap bitcoin terus meningkat.

Mata uang bitcoin sebenarnya dibuat terbatas. Sekitar lebih dari tiga per empat dari 21 juta bitcoin telah ditambang. Mata uang khusus ini hanya diperdagangkan online atau ditukar dengan barang dan jasa.

Ahli bitcoin dan CEO Civic (perusahaan rintisan perlindungan identitas digital AS) Vinny Lingham mengatakan, pasokan bitcoin baru terus berkurang. Namun rencana Bank Sentral AS menaikkan suku bunga acuannya justru memicu lonjakan nilai unit bitcoin.

“Orang-orang melihat bitcoin sebagai lindung nilai yang baik terhadap devaluasi mata uang di negara-negara mereka. Masyarakat bukannya membeli dolar AS, tapi malah membeli bitcoin,” ujarnya.

Lingham menyoroti dampak ketidakpastian geopolitik yang lebih luas, seperti potensi ancama presiden-terpilih AS Donald Trump terhadap negara berkembang. Dia memperkirakan bitcoin akan bernilai sekitar US$ 3.000 akhir tahun ini. “Bitcoin bereaksi sebagai safe haven,” katanya.

“Generasi milenial tidak percaya emas seperti apa yang orang tua mereka lakukan (untuk berinvestasi). Bitcoin mampu menjadi aset jika Anda tinggal di pasar luar negeri dan prihatin dengan pemerintah Anda.”

Harga bitcoin dalam banyak mata uang negara berkembang telah meningkat, bahkan lebih curam dibandingkan dolar AS. Di China, yuan yang mencapai level terendah dalam delapan tahun terakhir terhadap dolar AS justru memiliki permintaan tertinggi terhadap bitcoin.

Ilustrasi bitcoin di depan mata uang dolar AS. Photo Illustration by Thomas Trutschel/Photothek via Getty Images)

Keputusan mengejutkan Perdana Menteri India Narendra modi untuk menarik pecahan 500 dan 1.000 rupee dari peredaran diduga juga telah meningkatkan nilai tukar bitcoin. “Ini bukan hanya China, ini fenomena global,” kata pendiri dan CEO penukaran bitcoin China BTC China Bobby Lee.

“Ada banyak contoh demonetising. Di India, mereka membatalkan uang rupee, di Argentina juga serupa. Itu memicu bitcoin menjadi lebih menarik, itu kelas aset baru yang nyata.”

Lee mengatakan akan lebih banyak regulasi aset digital di seluruh dunia di masa depan. “Sudah ada batas konversi valuta asing tetapi sejauh ini pembatasan arus modal keluar tidak memukul (nilai) bitcoin,” katanya.

Direktur Riset Kingston Securities Dickie Wong mengatakan, investor China kemungkinan pindah ke uang bitcoin seturut nilai tukar yuan anjlok untuk menghindari batas tahunan pembelian mata uang asing sekitar US$ 50 ribu per orang. “Devaluasi yuan masalah utama,” ujarnya.

Total kapitalisasi pasar bitcoin saat ini lebih dari US$ 18 miliar, jauh lebih dari cryptocurrency, meski sebagian kecil dari nilai mata uang yang diperdagangkan secara global lainnya.

Cryptocurrency yakni sebuah mata uang virtual yang dapat digunakan sebagai mata uang alternatif namun bersifat desentralisasi. Artinya, tidak ada pihak yang mengaturnya, baik perusahaan, pemerintah, bahkan si pembuat cryptocurrency itu sendiri.

Wakil Presiden Transformasi Digital Asia Pasifik di Konsultan Frost & Sullivan di Singapura Ajay Sunder mengatakan, tren lebih luas seperti kenaikan pembayaran digital akan memperkuat mata uang. “Umumnya orang sekarang lebih nyaman menggunakan pembayaran digital, transaksi digital. Tapi bitcoin masih sangat marjinal. Ini masih harus dilihat apakah akan menjadi nilai tukar yang mainstream.”

Sumber: AFP

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *