Tas Kreasi Karung Goni

Berbisnis memerlukan kejelian melihat peluang yang datang. Begitu pula yang dilakukan Ernina Hermina Kamil yang menggeluti bisnis karung goni dan blacu.

Selama ini karung jenis ter­sebut hanya digunakan untuk mem­bungkus beras atau kacang-kacangan dalam jumlah banyak. Namun bagi Ernina, karung goni dan blacu bisa diubah menjadi sebuah tas cantik berdaya guna tinggi.

Ernina men­jahit dan membuat kreasi, karung goni yang lusuh dan kotor menjadi menarik dan bernilai tambah. Nina–sapaan ­Ernina– menemukan pe­luang berbisnis kreasi karung goni pada awal tahun 2000. Ia melihat ba­nyak karung goni dan blacu di pasar tradisional dibuang cuma-cuma.

Awalnya, ibu satu anak ini tak ­sengaja memungut helaian karung. Karung ter­sebut kemudian dibersihkan dan dijahit hingga membentuk sebuah tas. Setelah dinilai layak digunakan, tas karung goni dibawa untuk bekerja. Kebetulan Nina anti menggunakan kantong plastik untuk tempat barang bawaan.

“Tidak disangka orang-orang kantor suka. Akhirnya saya membuat agak banyak,” kata Nina.

Menurut Nina, mayoritas penggemar tas goni ­buatannya Warga Negara Asing (WNA), khususnya Jepang yang bekerja di kantornya. Tak banyak yang mereka pesan, paling tidak satu orang memesan lima buah.

Melihat masa depan usaha ini cukup baik, Nina mendirikan sebuah badan usaha dengan nama Nina Kreasi Bag and Craft. Dengan modal sekitar Rp 10 juta, Nina memproduksi hanya sekitar 40 buah tas dengan model dan motif berbeda.

Seiring perjalanan waktu, kini Nina mampu memproduksi 50 hingga 80 buah tas sehari di­bantu dua orang penjahit dan seorang anaknya. Dengan menyasar pangsa pasar kelas bawah dan menengah, tas buatannya dibanderol dengan harga relatif terjangkau, mulai dari Rp 50 ribu hingga Rp 185 ribu.

Meski terjangkau, Nina tidak mengabaikan kualitas. Setelah dijahit, biasanya Nina melakukan pengecekan kembali. Hanya tas dengan nilai penyelesai­an terbaik yang akan dijual. “Jadi tidak sembarang jahitan. Semua harus saya cek kerapiannya,” ujar dia.

Tas karung goni dan blacu ini memiliki nilai guna yang tinggi. Selain bisa membawa barang dalam jumlah besar dan banyak, tas ini telah teruji kekuatannya dan mampu bertahan hingga bertahun-tahun.

Keunggulan utama tas berbahan goni dan blacu ini saat memasuki umur 10 tahun akan mudah terurai. “Tas ini tanpa bahan kimia berbahaya dan sa­ngat ramah lingkungan. Selain itu tidak menimbulkan racun ketika terurai,” katanya.

Walau berdiri sejak 2004, Nina baru serius menjalankan usaha ini tiga ­tahun terakhir. Selain memiliki gerai di Jalan Baranangsiang, Bandung, Nina mulai memasarkan tas buatan­nya dengan mengikuti bazar dan pameran Inacraft.

Kini usaha kecil-kecilan itu mampu meraup omzet hingga Rp 7 juta per bulan. Bahkan setiap mengikuti bazar dan pameran, omzet tambahan mencapai Rp 5 juta. “Alhamdulillah, masih mendapat tempat di hati pengunjung,” katanya.

==

Respons Pasar Masih Kurang

Berbisnis barang tidak mo­dern dan daur ulang sangat sulit di­terima pasar besar. Di Bandung, Jawa Barat, tas karung goni dan blacu milik Nina masih minim peminat.

Nina mengatakan, tantangan terbesar usaha ini, penerimaan pasar terhadap produk daur ­ulang masih kurang. Belum lagi di­gempur barang-barang bermerek terkenal meski berharga mahal. “Kebetulan warga Bandung juga masih bersifat konsumtif. Asal bermerek pasti dibeli walau kualitas nomor dua,” katanya.

Tahun pertama usaha, Nina pesimistis produk alami dan daur ulang buatannya akan diterima pasar. Baru setelah pemerintah mencanangkan diet kantong plastik, tas karung goni dan blacu milik Nina menjadi sasaran utama. “Alhamdulillah sudah mulai banyak yang peduli lingkungan,” katanya.

Untuk mengedukasi ma­sya­rakat terhadap produk ramah lingkungan, Nina menggencarkan penjualan dengan mengikuti berbagai bazar dan pameran. Bahkan rencananya, Nina akan menyasar pasar internasional, khususnya Jepang.

Negara ini menjadi perhatian utama sebab sebagian besar penduduknya menyukai barang daur ulang dan ramah lingkungan. Dia ingin menunjukkan, produk Indonesia memiliki daya saing tinggi. “Mereka harus melihat sendiri kua­litas jahitannya tidak kalah dengan mesin jahit modern,” ujarnya.

Apalagi di pameran Inacraft, tas karung goni dan blacu buatannya banyak diapresiasi pelancong, khususnya warga negara Jepang yang sangat antusias dengan produk alami. “Mereka senang sekali dan pernah bilang ini handicraft yang se­sungguhnya,” kata dia.

Untuk menambah penghasilan, Nina juga menerima pesanan sesuai keinginan pe­langgan. ­Biasanya pesanan untuk acara-acara ter­tentu, seperti ­pernikahan, seminar, atau ­acara adat.

Ke depan Nina akan memproduksi lebih banyak produk dengan motif beragam. Dalam waktu dekat Nina akan membuat tas punggung berbahan goni de­ngan sasaran kawula muda.

 

Profil:
Nina Kreasi Bag and Craft
Nama : Ernina Hermina Kamil
Kontak: 0817210775
Tempat Tanggal Lahir : Bandung, 14 Juli 1966
Pendidikan Terakhir : Pendidikan Akademi Sekretaris Santa Angela Bandung
Pekerjaan: Karyawan Yayasan Komatsu

Share This :

Ditopuccino: @ditopuccino TechBuzz Thinker ! Cappuccino Lover