Menu Dunia Khas Simplisio

edited cook 3 (2)

Tak banyak restoran yang menyajikan menu kelas dunia di Tanah Air. Ini menjadi pilihan Marlissa Anggina bersama suami Ario Ariestanata mendirikan Rumah Lezat Simplisio di Bandung, Jawa Barat sejak Mei 2012.

“Kita kebetulan sekolah dan memang suka banget masak. Jadi ingin bikin Rumah Lezat,” kata Marlissa yang biasa disapa Lisa.

Niat menjajakan makanan-makanan lezat kemudian berlanjut keinginan terus belajar. Berbagai macam menu dunia dipelajari. Tahun pertama bisnis, mereka memutuskan menjadi pusat kuliner dunia di Indonesia. Hingga kini telah berhasil menyajikan 600 menu dunia.

Restoran tersebut memiliki konsep tidak satu menu untuk selamanya, tapi terus berkembang seiring permintaan pasar. Namun kebanyakan menu berasal dari Asia. “Nanti ada menu yang dihilangkan dan tambah baru. Untuk best seller kita pertahankan,” katanya.

Mie Hong Kong, Ramen, dan Sushi menjadi menu andalan Rumah Lezat Simplisio. Sushi jadi pilihan karena bisa menjamin kehalalannya. Selain itu, nasi goreng dengan beberapa ragam rasa dari berbagai negara ikut jadi pilihan.

Dalam tiga tahun, Rumah Lezat Simplisio sudah mengganti menu sebanyak empat kali. Namun Simplisio juga fokus menyajikan menu-menu halal. Pengalaman gagal menjadikan beberapa menu menjadi halal juga pernah dirasakan.

“Seperti sushi itu pakai sake mirin. Tapi kita berhasil mencari pengganti dengan cuka lemon. Jadi kalau kita bisa cari alternatifnya, kita bisa rilis di menu. Ketika sudah benar-benar tidak bisa, tidak kita masukkan ke menu.”

Rumah Lezat Simplisio fokus menyajikan masakan halal. Hal ini karena semua penyalur bahan makanan seperti ayam, sapi, dan mie sudah punya sertifikat halal.

“Kalau dari bahan-bahan baku impor, kita cari yang sudah punya sertifikat halal dari masing-masing negaranya. Tapi untuk punya sertifikat halal masih jadi tantangan kita,” katanya.

Dihitung berdasarkan jumlah negara, Rumah Lezat Simplisio telah berhasil menyajikan menu dari 20 negara. Selain itu banyak menu negara yang sama dan memiliki nama berbeda namun hanya dipilih salah satu.

“Jadi kalau dibilang dunianya sudah ada semua belum? Ya belum. Tapi karena kita ganti terus, harapannya kita mampu menyajikan menu andalan semua negara. Kami saat ini baru berdiri empat tahun,” katanya.

Rumah Lezat Simplisio punya mimpi untuk menjadi pusat kuliner dunia. Namun diakui, bahwa itu tidak bisa dilakukan dalam satu wakt. Namun, nantinya mereka akan menambah terus menu-menu dunia, sehingga benar-benar mendunia.

“Ini akan tetap jadi dunia bagaimanapun caranya, tapi cuman ada di sini. Kalaupun tidak di lokasi ini, mungkin kita pindahkan,” jelas Lisa.

Rumah Lezat Simplisio berniat menjadi legenda rumah makan yang menyajikan menu dunia. “Kita juga tidak buka cabang. Jadi ini satu-satunya. Saya rasa tidak mungkin diduplikasi karena terlalu banyak dan ini menuntut kita selalu in charge.

IMG_20151225_121740 (2)

Makanan Indonesia Jadi Kendala

Pasangan suami istri ini sebelumnya pernah bersama kerja di perhotelan seperti Malaysia, Singapura, dan Bandung. Berbekal hasil tabungan kerja, keduanya membangun Rumah Lezat Simplisio.

Saat awal berdiri, rumah makan ini hanya memiliki satu lantai. Namun seiring perkembangan waktu, saat ini Rumah Lezat Simplisio memiliki dua lantai bangunan. “Modal awal yang penting cukup untuk beli meja, sewa tempat, dan alat-alat masak. Paling sekitar Rp 100 juta. Pertama buka, laba juga tidak terlalu besar. Kini pendapatan saat libur sekitar Rp 3 juta. Untuk hari biasa, keuntungan sekitar 50 persen pendapatan akhir pekan.”

Berani menyajikan menu makanan dari seluruh dunia justru memicu Rumah Lezat Simplisio merasa tidak percaya diri menyajikan menu-menu Indonesia. Proses masak dan resep yang rumit pada makanan Indonesia menjadi tantangan bagi pengelola Rumah Lezat ini.

“Indonesia paling susah. Bahan kita punya semua yang dibutuhkan. Tapi itu menjadi susah karena konsumen yang menilai. Kita tidak percaya diri dengan menu Indonesia,” kata Marlissa Anggina.

Ia menilai, resep makanan Indonesia jauh lebih rumit dari makanan-makanan negara Barat. Menu makanan Korea dianggap lebih mudah meski memiliki bumbu sangat banyak. “Dengan sistem masak yang rumit, kadang ada banyak makanan Indonesia yang tidak bisa kita tempatkan bersamaan dengan makanan-makanan lain,” katanya.

Namun ia dan suami tetap berusaha menyandingkan masakan Indonesia dengan masakan dunia. Suami yang bertugas di bagian operasional diminta tidak terpaku resep-resep tertentu.

“Bisnis saya jalankan bersama suami. Untuk pengelolaan dan pemasaran saya yang pegang. Suami lebih ke operasional dan cari resep. Saya bikin konsepnya, dia yang lengkapi dengan resepnya,” kata Marlissa.

IMG-20151225-WA0009 (2)

Rumah Lezat Simplisio

Line                        : Simplisio

Instagram            : @simplisiogroup

Twitter                 :@rumzatsimplisio

WhatsApp        : 085956718249

Pemilik            : Ario Ariestanata Sentana dan Marlissa Anggina

Hobi berdua   : Masak, Makan dan Jalan-Jalan

Share This :

,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *