Kreasi Unik Sepatu Batik

Kesuksesan bisa berawal dari kecintaan terhadap sesuatu. Dengan ketekunan dan pantang menyerah mendorong Astari Putri Utami memulai usaha Ethnic Collaboration. Ia biasa menyingkat nama usahanya dengan Etc.co.

Sejak kecil ia menyukai batik. Kecintaannya tersebut diwujudkan dengan usaha berkaitan dengan batik, namun bukan dalam bentuk pakaian melainkan pada alas kaki atau sepatu.

Mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah ini menyukai batik karena memiliki motif yang unik. “Kepikiran buka usaha batik tapi mau yang beda dari kebanyakan orang. Biasanya batik dipakai sebagai baju dan lainnya. Akhirnya jatuh ke pilihan sepatu khusus wanita,” ujar Astari.

Alasan pemilihan produk sepatu wanita, menurut Astari, dirasakan cukup tepat. Ia menilai produk wanita cenderung laris manis di pasaran. Wanita sering sekali berbelanja dan mencari barang baru yang unik dan menarik.

“Saya pilih sepatu wanita karena kan modelnya banyak, unik dan warna cerah. Jadi buat desain enak. Kami juga sediakan sepatu dengan ukuran sampai 42 cm karena wanita susah cari ukuran tersebut,” katanya.

Nama Etc.co diambil dari ciri khas produk ini. Sepatu wanita ini menggabungkan antara batik dan kain khas Indonesia dipadu nuansa modern. Pada kesempatan apa pun, sang pemilik sepatu bisa menggunakannya.

“Etc.co sendiri nama yang diambil dari produk kita. Sepatu ini kan gabungan dari modern dan tradisional Indonesia. Ada unsur kekinian dan corak dari batik serta kain songket,” kata wanita berkulit sawo matang ini.

Menggandeng sahabat, Zulfah Nurhani Zulaimyta sebagai pemegang modal, Astari memproduksi sepatu batik pertama kali pada November 2014 di Bogor, Jawa Barat. Ia mencari sendiri lokasi yang cocok untuk memproduksi sepatu yang dirancangnya.

“Waktu itu modalnya sekitar Rp 10 juta. Kita buat menjadi 100 pasang di Depok tapi itu gagal dan akhirnya pindah tempat. Kita cari lokasi yang bagus dan sesuai standar produksi. Dapat di salah satu desa di Bogor,” ujarnya.

Ia mengatakan, keunggulan produk ini tidak memproduksi setiap pasang sepatu dalam jumlah besar. Satu desain yang dikeluarkan hanya akan diproduksi 15 pasang.

“Jadi kami mau limited edition. Setiap yang beli itu spesial karena tidak akan diproduksi lagi. Sekali keluar tidak akan keluar lagi. Itu komitmen kami,” kata Astari.

Hingga saat ini, ia mengaku sudah mendapatkan omzet Rp 1-2 juta per bulan. Ekspansi di masa mendatang, Astari berharap bisa mengembangkan Etc.co untuk produk ibu dan anak.

“Saya ke depan ingin jual produk ibu dan anak serta bersiap membuka pabrik sendiri. Jadi kita bebas produksi dan memasarkan dalam skala besar. Saat ini terganjal produksi yang dibatasi padahal pemintaan terus mengalir,” katanya.

 

Bosan Berjibaku dengan Kemacetan

Keinginan mandiri sudah menjadi tekad Astari Putri Utami dalam berwirausaha. Ia akan terus belajar meski tidak berlatar belakang sekolah bisnis atau anak seorang pengusaha.

Saat ini wanita berusia 24 tahun tersebut mengambil kuliah di Jurusan Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah. Dengan keterampilannya berkomunikasi, ia berharap dapat memerbesar usahanya kelak. “Suka bisnis karena waktunya memang sudah bisa diatur dan fleksibel,” katanya.

Ia merasa dengan menjadi pekerja kantoran akan menyita seluruh kehidupannya. Ia membayangkan harus bekerja pagi hari, berjibaku dengan kemacetan, masalah dengan bos, klien hingga kejenuhan menuju rumah dan kantor. “Saya paling tidak betah dengan kemacetan,” katanya.

Dengan berwirausaha, ia bisa mengatur pola kerjanya sefleksibel mungkin. Ia bisa mengatur waktu kapan bertemu dengan pembeli atau mengatur pasokan di toko penjualan.

Baginya, berbisnis bukan kali pertama dilakukan Astari karena sebelumnya pernah membuka usaha kuliner. Ia menjual burger hitam di Pamulang, Tangerang Selatan. Namun usahanya tidak bertahan lama karena terhambat lokasi usaha.

“Itu berlangsung beberapa bulan dan kami tutup. Kami bermasalah dengan pemilik lokasi. Ternyata dia juga mau bisnis di lokasi itu,” ujar Astari.

Tidak jera, perempuan ini kemudian mencoba peruntungan di alas kaki atau sepatu. Ia percaya pengalaman yang didapat dari berbisnis kuliner bisa menjadi modal kegiatan lain. Kini produksi sepatu sudah dilakukan selama setahun. Berbagai desain telah ia keluarkan dan semua berciri khas Indonesia.

“Desain kami memakai nama pewayangan Indonesia, seperti Satyavati, Sumbadra, Tara, Prita, Agni, dan lain sebagainya. Paling banyak diminati Satyavati,” katanya.

Nama : Astari Putri Utami
Usia : 24 tahun
Hobi : jalan-jalan

Nama : Zulfah Nurhani Zulaimyta
Usia : 22 tahun
Hobi : jalan jalan dan kuliner

IG : Ethnic.collaboration
Twitter : @ethnic_co
WA: 0813153793793/08969588140
www.ethniccollaboration.tumblr.com
JKT – Indonesia

Share This :

Ditopuccino: @ditopuccino TechBuzz Thinker ! Cappuccino Lover

View Comments (4)