Review Film Battle of Surabaya

Sebuah Pesan Perdamaian dari Surabaya

Tidak banyak yang menyukai film animasi, apalagi lokal. Sebelum menonton film tersebut pasti masyarakat sudah mencibir duluan.

“Ah film animasi ditonton. Kayak anak-anak saja kau,”begitu celetukan teman. Thats why aku selalu menonton sendirian khususnya film-film animasi biar tidak dibilang kekanak-kanakan.

Bagaimana pun, film animasi memiliki cerita yang unik. Kadang membuat hati lebih terusik, ketimbang nonton film biasa.

Nah, kebetulan Agustus ini ada film animasi lokal (wuiiih patut kita acungi jempol buat kreatornya) bertajuk “Battle of Surabaya”. Film tersebut mengisahkan tentang perjuangan arek-arek Surabaya memertahankan kemerdekaan dari tangan penjajah.

Bila mengetahui sejarah, kisah tersebut mengambil latar belakang peristiwa insiden bendera di Hotel Yamato dan kedatangan Sekutu yang ditumpangi Belanja menuntut hak atas Hindia Belanda.

Ada juga gangguan dari beberapa kelompok pemuda Kipas Hitam, sebuah organisasi paramiliter bentukan Jepang. Tokoh-tokoh dari Surabaya seperti Gubernur Suro, Pak Moestopo hingga Bung Tomo membakar semangat arek-arek Surabaya untuk melawan penjajah.

Namun sebenarnya, inti film tersebut bukan tentang peperangan itu. Memang beberapa menit adegan menunjukkan peristiwa perobekan bendera Belanda menjadi bendera Merah Putih.

Adegan juga menggambarkan situasi peperangan pada zaman tersebut, termasuk negoisasi pemuda setempat untuk segera melawan penjajah. Beberapa adegan ini banyak yang mengkritik karena ketidaksesuaian dengan sejarah.

Tapi sutradara Aryanto Yuniawan mengatakan, film ini hanya mengambil latar belakang perang Surabaya tersebut. Film intinya justru mengisahkan seorang penyemir sepatu bernama Musa yang kemudian menjadi kurir surat para pejuang-pejuang tersebut, termasuk menyampaikan pesan rahasia ke pemimpin-pemimpin di Surabaya.

Ia juga menjadi kurir bagi Yoshimura, seorang Jepang yang telah lama ada di Surabaya. Karena sifat baiknya, Musa menganggap Yoshimura sebagai ayah karena ia yatim. Ayahnya dibunuh tentara Belanda.

Ia bersama sahabatnya, Yumna (diisi suaranya oleh Maudy Ayunda) bertugas menjadi kurir. Dalam penugasannya, ia bertemu Danu (diisi oleh Reza Rahardian) yang menjadi pengawal Musa saat mengantar pesan rahasia.

Namun ternyata Danu menjadi agen rahasia Jepang, termasuk organisasi Kipas Hitam yang melawan pemerintah Indonesia. Sepanjang film ini mengisahkan tentang kesedihan Danu karena ditinggal ibunya, kegelisahan dengan Yumna yang ternyata memiliki tato Kipas Hitam dan Danu yang juga menjadi pengkhianat bangsa.

Nah, biar ga spoiler, lebih baik filmnya ditonton sendiri ya. Thriller filmnya ada di sini.

Film berdurasi 95 menit tersebut cukup memiliki plot yang lumayan banyak. Apalagi ceritanya terkesan loncat. Bagi yang tidak mengetahui sejarah, tentunya akan mengabaikan alur tersebut karena inti filmnya cuma ada di Musa, Danu, dan Yumna.

“Ini bukan perang, ini kemanusiaan tentang kehormatan dan kebebasan.”

Bila ingin menonjolkan film sejarahnya, film ini bisa dibilang tak masuk dalam kategori tersebut. Bila membayangkan dari judulnya, tentu akan terbayang film perang-perangan khas film Amerika. Namun ternyata tidak. Film ini masih ada khas Indonesia, yaitu drama. Haha..Di bagian akhir aku juga cukup trenyuh.

Kalau mau menonjolkan Surabayanya, di sini tidak banyak yang terkuak tentang Surabaya, kecuali gambaran Hotel Yamato dan satu tokoh khas Surabaya serta beberapa kalimat omongan Danu dengan bahasa Jawa. Itu saja, tak ada yang lebih.

Maklum, pembuatnya juga orang Yogyakarta dari STMIK Amikom. Jadi wajar saja bila tak menyuguhkan kekhasan Surabaya. Makanannya juga ketan, yang sebenarnya malah banyak ditemukan di Yogyakarta atau Jawa Tengah.

Dari sisi karakter, pembuatan animasinya memang mengarah ke Studi Ghibli Jepang. Dari sisi adegan lebih mengarah ke gaya Amerika. Nah, karena film ini didukung Dolby, suaranya cukup menggelegar. Sayang adegan perangnya kurang banyak.

Di sini sekaligus menjadi pekerjaan rumah bagi animator lokal untuk menyuguhkan karakter versi Indonesia sendiri. Memang sejak awal, sutradara menginginkan film ini bisa go internasional. Jadi lebih mengutamakan karakter yang bisa disajikan secara internasional juga.

Namun ke depan akan lebih baik bila film animasi lokal memiliki kekhasan karakter lokal yang lebih membumi. Untuk karakter Bung Karno, Bung Hatta, dan Bung Tomo sengaja dibuat mirip karena harus sesuai dengan sejarah. Di samping kita mengetahui wajah aslinya (meski hanya melalui tayangan film/ foto dokumentasi).

Dari sisi pesan,sesuai yang ada di poster film menyebut,”Theres is no glory in war”alias perang tak membuahkan kemenangan apa pun.

Di akhir cerita ini dikisahkan, Musa menjadi tua dan memiliki cucu. Ia kembali diingatkan tentang peringatan kemerdekaan dan ia pernah ingat mengalami masa-masa zaman peperangan. Ia kehilangan orang-orang yang dicintainya saat itu. Padahal keinginannya cuma satu, bisa membahagiakan ibunya, makan kenyang dan tidur nyenyak. Cita-cita yang sederhana.

Sebuah pesan perdamaian pun muncul saat bendera-bendera Indonesia, Jepang, dan Belanda dikibarkan bersama. Tak ada perasaan dendam dan bisa bahagia satu sama lain.

Ini juga yang bisa dibawa film tersebut ke dunia internasional bahwa peperangan tidak akan menyelesaikan masalah. Itu juga yang memicu Walt Disney Asia tiba-tiba datang ke Studio MSV Picture menawarkan kerja sama, meski pihak MSV memilih untuk menyodorkan Walt Disney sebagai distributor film tersebut.

Walt Disney justru melihat ada potensi sumber daya manusia (SDM) di Indonesia bisa dikembangkan, terutama ke depan bisa menjalin kerja sama membuat film animasi lokal yang bisa ditonton secara internasional. Begitu harapannya.

Bagaimana pun, film yang pernah meraih penghargaan Hollywood Golden Trailer Awards 2014 dan International Movie Trailer Festival ada 2013 ini patut diacungi jempol. Kritik membangun perlu disampaikan agar ke dean industri animasi lokal terus berkembang. Nilai dari IMDb bisa dilihat di sini.

Satu lagi, kita bisa memberi pesan perdamaian kepada dunia sekaligus memberitahu kepada mereka bahwa Indonesia itu ada, besar bukan karena jumlah orangnya, tapi bisa adidaya secara sumber daya. Semoga…

Share This :

Ditopuccino: @ditopuccino TechBuzz Thinker ! Cappuccino Lover

View Comments (1)

  • Kalau secara gambarnya ada yang detail bagus banget, waktu dibagian pemandangan, di hutan, dan beberapa gambar lain. Kalau mau komentarin Reza Rahadian sama Maudy Ayunda, aku pikir mereka jadi agen marketing yang bagus buat film ini, diluar performa mereka yang memang bagus.