Rezeki Ngebul Burger Bakar

Hasrat terhadap sesuatu bisa menjadi awal kesuksesan sebuah usaha. Setidaknya, ini yang dialami Yunanto ketika memilih membuka usaha di bidang makanan. Memasak menjadi salah satu hasrat terbesar dalam hidup pria yang tidak sempat menamatkan kuliah di bidang ekonomi ini.

Semasa kuliah semester awal di Yogyakarta, ia sudah mulai bekerja. Pekerjaan yang dipilihnya masih seputar kecintaannya pada memasak yaitu di bidang perhotelan dan restoran.

Menurut dia, dengan latar belakang di bidang perhotelan dan restoran yang dimiliki, ia semakin familiar dengan makanan barat. Pada 2007 tercetus ide membuka usaha makanan barat karena sejak dulu telah bercita-cita membuka warung makan.

“Ide usaha ini baru terealisasi 2010 bersama saudara saya karena masih harus mengumpulkan modal dan mencoba-coba resep,” katanya.

Pada Oktober 2010, ia mendirikan Qebul Burger Bakar di Cijantung, Jakarta Timur. Keputusan menggunakan merek tersebut lantaran cita-cita Yunanto melokalkan makanan barat yang diolahnya. “Saya ingin memiliki identitas lokal pada makanan barat yang saya buat,” ujarnya.

Pemilihan burger sebagai produk jualannya lantaran melihat masyarakat perkotaan, khususnya Jakarta gemar menyantap makanan yang kebarat-baratan. Namun ketika akan memulai usaha, berbagai macam makanan seperti sushi, mie ramen, hingga pasta sempat menjadi pertimbangannya. “Pilihan saya pada burger karena lebih familiar dan disukai hampir semua kelas sosial.”

Ia mengawali usaha ini dengan modal awal hanya Rp 3 juta. Namun percobaan membuat resep burger dan rotinya diakui cukup menguras kocek. Saat ini Yunanto membuat sendiri daging burgernya. Roti diproduksi pabrik roti dengan resep miliknya.

Tujuh tahun terakhir, ia bereksperimen membuat burger yang enak dan sesuai lidah masyarakat Indonesia. Setelah mendapati resep yang pas dan membuka kios, dia langsung mengundurkan diri dari restoran dan hotel tempatnya bekerja.

“Saya sangat yakin dengan usaha ini karena terjangkau dan rasanya enak. Ini bukan berarti saya mempromosikan usaha saya sendiri,” katanya.

Yunanto menjual dua jenis burger dengan dua harga berbeda. Satu porsi original beef burger dibanderol Rp 12 ribu dan cheese burger Rp 14 ribu per porsi. Harga yang murah bisa mendorong masyarakat mau antre mencoba masakannya.

Ia telah mematenkan Qebul Burger Bakar ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) sejak tiga tahun lalu seiring animo masyarakat yang besar terhadap masakannya. Ini dilakukan agar tidak ada yang memalsukan atau mencontek usahanya sembarangan.

Setiap hari, ia mampu menjual 600-700 porsi burger. Kiosnya buka setiap hari dari 15.30 WIB hingga 22.00 WIB. Saat ini kiosnya sudah pindah ke Jalan TB Simatupang-Ranco, Jakarta Selatan karena lebih ramai pembeli. “Padahal waktu di Cijantung hanya lima pembeli sehari,” katanya.

Meski enggan menyebutkan omzet per hari, ia bersyukur mampu memekerjakan lima orang karyawan dengan standar gaji Upah Minimum Regional (UMR). Ia mengakui penghasilan dari usaha ini lebih besar dibandingkan saat menjadi karyawan.

Berjualan Sepenuh Hati

Berbisnis tentu ada pasang surutnya. Ia juga menjalani proses jatuh bangun memajukan bisnisnya, mulai dari teguran konsumen dan pembeli yang sedikit. Namun ia selalu berpikir positif dan yakin terhadap usaha tersebut.

“Protes dan sedikitnya pembeli saat memulai usaha cukup wajar. Itu justru akan menguatkan mental kita sebagai seorang wirausahawan,” ujarnya.

Menurut dia, lika-liku dalam dunia usaha bisa memberi dua dampak yaitu positif dan negatif. Namun ia selalu berjualan sepenuh hati karena usaha tersebut merupakan pilihannya. “Jika kita berjualan sepenuh hati, Insya Allah lebih mengena ketimbang menggunakan logika bisnis. Ini saya alami sendiri ketika usaha ini sedang diuji untuk melihat keteguhan hati kita terhadap usaha yang kita pilih,” tuturnya.

Selain itu, dengan prinsip sepenuh hatinya, Yunanto tidak mempromosikan usahanya di media sosial. Salah satu alasannya kekurangpahamannya terhadap media sosial itu sendiri.

Namun alasan utama adalah keinginannya agar Qebul Burger Bakar dikenal dari mulut ke mulut. Menurut dia, iklan dari mulut ke mulut ini merupakan yang paling jujur dibandingkan hanya menampilkan gambar di media sosial.

Ia berharap, usahanya akan semakin besar dan memiliki cabang. Untuk mencapai hal itu, ia gemar menabung penghasilannya untuk memerbesar usaha. Namun saat ini ia lebih ingin fokus pengenalan merek dagangnya.

“Jika sudah dikenal masyarakat, saya rasa akan mudah memerbesar usaha, misal pinjam ke bank. Tapi untuk saat ini saya lebih ingin memerkuat branding image,” ujarnya.

Qebul Burger Bakar
Pemilik : Yunanto

Tempat, tanggal lahir : Magelang, 4 Agustus 1977

Pendidikan : Semester II Jurusan Manajemen di Yogyakarta

Lokasi : Jl. TB Simatupang-Ranco Jakarta Selatan

Share This :

Ditopuccino: @ditopuccino TechBuzz Thinker ! Cappuccino Lover