Kecewa Penjualan Tiket di Alfamart

Pada 13 Desember 2014, saya ingin nonton Doraemon Secret Gadgets Expo yang diadakan di Ancol. Takut tiket habis atau antre, saya memilih membeli tiket melalui Alfamart di Kenari 2, Salemba, Senen, Jakarta Pusat. Kebetulan toko tersebut dekat kosan dan menjual tiket tersebut.

Saat itu, saya dilayani Rahmat Hidayat dan diharuskan memakai KTP. Saya pun membayar tiket seharga Rp 90 ribu dan plus PPN jadi Rp 99 ribu. Karena membeli dua tiket, saya membayar Rp 198 ribu.

Proses pun selesai dan saya mendapat tiket berupa lembaran tiket berwarna putih khas print-print an. Nantinya, tiket itu harus ditukar dengan tiket resmi di lokasi acara.

Lantas berangkatlah saya ke Ancol dengan adik saya. Ternyata tiket Doraemon Expo tidak termasuk tiket masuk Ancol. Saya harus membayar Rp 20 ribu per orang dan Rp 15 ribu untuk parkir motor. Total Rp 55 ribu.

Masuklah saya menelusuri pusat perbelanjaan tempat acara tersebut. Sesampainya di sana, saya diharuskan menukar tiket Alfamart dengan tiket asli. Namun pas di konter tiket, petugasnya bilang tiket tersebut tidak ada verifikasi berupa stempel toko. Jadi tidak dapat diproses.

“Kami juga tidak bisa memproses tiket dari Alfamart karena data paling lambat baru masuk tiga hari kemudian. Ini belum ada sehari. Dari data kami, penjualan dari Alfamart belum bisa masuk,” kata petugasnya.

Ia juga menyarankan agar membeli tiket yang baru. Untuk tiket Alfamart tadi, bisa menemui Pak Christian.

Saya disuruh menemui Pak Christian di loket bagian atas. Atas saran beliau, tiket bisa ditukar kembali di lokasi pembelian tiket awal (Alfamart).

Sebelumnya, saya sempat ngotot dengan petugasnya karena tiket dari Alfamart tidak asli karena tidak ada stempel. Saya disarankan kembali dan meminta stempel dari Alfamart.

Tapi bila cara itu saya lakukan, saya harus berkorban dua kali jalan dan nantinya harus membayar tiket masuk Ancol lagi seharga Rp 55 ribu. Belum lagi kerugian macet selama Ancol-Salemba.

Apalagi kebetulan adik saya hanya bisa menonton saat itu dan keesokan harinya harus balik lagi ke Jawa Timur.

Saya memilih untuk membeli tiket baru. Saran Pak Christian, sepulang nonton, tiket bisa ditukar dengan uang kembali di tempat pembelian semula.

Selepas kembali, saya langsung ke Alfamart untuk menukar tiket. Tapi ternyata tiket tidak bisa dikembalikan (dengan alasan macam-macam). Namun dia akan koordinasi dengan atasannya terlebih dahulu. Saya diminta kembali tiga hari kemudian.

Saat saya kembali, ternyata belum ada kabar dari Alfamart. Tiket diminta oleh petugas Alfamart untuk dikonfirmasi ke penyelenggara Doraemon.

Saya sempat tiga kali lebih untuk kembali ke Alfamart. Ujungnya dia akan memproses tiket tapi tidak bisa langsung selesai. Kemungkinan uang akan cair akhir Januari 2015.

Saya menunggu sampai 28 Januari 2015 dan saya diminta ke Alfamart untuk mengambil uang tiket.

Namun sampai di sana ternyata uang itu hanya bisa dikembalikan Rp 150 ribu. Saya tanya alasan mengapa tidak bisa kembali penuh dan Rahmat Hidayat bilang itu sudah aturan perusahaan. Jika membatalkan tiket, biasanya ada potongan.

Daripada uang saya tidak kembali, saya akhirnya menerima uang tersebut. Tapi setelah saya ngobrol panjang lebar dengan Rahmat, diketahui ternyata uang Rp 150 ribu itu milik Rahmat sendiri dan bukan uang dari penyelenggara Doraemon atau dari Alfamart.

Dari situ saya marah dan saya langsung mengembalikan lagi uang itu ke Rahmat. “Daripada masnya datang terus ke sini. Saya juga bingung karena tidak ada penyelesaian dari atasan dan penyelenggara, lebih baik saya kasih uang saya dulu. Hitung-hitung saya yang salah,” katanya.

Namun saya tidak bisa menyalahkan Rahmat meski ia juga salah tidak menyertakan stempel toko di tiket. Namun saya lebih menyalahkan penyelenggara atau Alfamart yang tidak segera merespon hak konsumen. Rahmat juga mengaku dalam ketentuan tiket Doraemon tidak mengharuskan ada stempel khusus toko karena dalam tiket sudah tertera nama toko.

Ini bukan soal uang Rp 200 ribu. Tapi itu memang hak saya karena tiket ternyata tidak bisa dipakai di tempat acara. Kalau sampai mengorbankan karyawan sendiri, bagaimana tanggung jawab perusahaan atau penyelenggara? Beginikah perusahaan atau penyelenggara melayani konsumen?

Mohon penyelesaian segera. Saya mau uang saya kembali.

Note: Saya tidak menginginkan ada pemecatan pada karyawan yang saya sebut tadi.

Share This :

Ditopuccino: @ditopuccino TechBuzz Thinker ! Cappuccino Lover