
Sejak bekerja di Jakarta, mobilitasku sebagai pekerja mengharuskan keliling di jalan. Namun sistem transportasi massal di Ibu Kota yang tidak kunjung beres mendorongku membeli sepeda motor.
Ini kulakukan agar tidak terjebak macet atau habis waktu hanya di jalan raya. Bagaimana pun, waktu adalah uang. Terlambat sedikit, rezeki bisa hilang.
Sama seperti memilih sepeda motor. Honda sebagai salah satu merek sepeda motor asal Jepang menjadi pilihan masyarakat. Selain harganya relatif lebih murah dibanding kompetitor, Honda juga memiliki teknologi pintar HondaSmartTech dan Enhanced Smart Power (ESP) yaitu peningkatan daya tahan, halus, serta lebih bertenaga.
Namun, sepeda motor yang kubeli bukanlah yang baru. Kebetulan, aku dimutasi kerja di Jakarta mulai Maret 2008 dan tidak membawa bekal apa-apa kecuali satu tas baju dan sedikit tabungan.
Karena belum memiliki banyak tabungan, pilihanku saat itu memilih mencicil sepeda motor baru atau membeli sepeda motor bekas (seken).
Kebetulan, teman sekantor juga sedang mencicil sepeda motor Revo milik Honda. Lumayan saat itu hanya mencicil Rp 300 ribu per bulan. Namun pilihanku saat itu membeli secara tunai saja.
Berbekal pengetahuan teman atau mencari pengetahuan melalui blog, aku akhirnya bertemu dengan satpam kantor yang menawarkan Honda Supra tahun pembuatan 2000. Dia menawarkan saat itu sekitar Rp 3,5 juta.

Update: foto di atas diambil 15 April 2026. Jadi sepeda motor Honda Fit tahun 2000 ini sudah membersamaiku selama 25 tahun. Kondisi mesin masih bagus. Cuman agak kusam karena belum dibersihkan. Maklum motor buat ke sawah dan keseharian dekat rumah. Bensinnya, jangan ditanya, super irit. Sebulan cuman isi sekali, sekitar Rp 36 ribu. Isinya pertalite lagi. Wkwk. Ntr kalo diisi Pertamax malah nggak cocok karena mesinnya cuman 100 cc. Lebih cocok ke pertalite kata abang-abang bengkel.
Btw, Beruntung sepeda motor yang aku beli masih memiliki kondisi yang bagus. Mungkin hanya service ringan, ganti oli atau memerbaiki rem yang sudah aus. Tak mengapa.
Temanku saat itu juga sempat mencoba dan bilang mesinnya masih bagus. Beruntung yang punya sebelumnya masih merawat sepeda motor tersebut.
Saat itu, aku sempat menawar Honda seken itu di bawah Rp 3 juta namun satpamku tak mau melepas karena sudah ada yang menawar sekitar Rp 3,5 juta. Daripada diembat orang lain, mending saya membelinya segera.
“Harga sepeda motor Honda meski seken masih tinggi. Beda dengan sepeda motor sebelah,” kata satpam itu.
Dari sisi bahan bakar, Honda termasuk yang paling irit. Sebulan aku hanya menghabiskan paling banyak Rp 100 ribu. Itu pun sudah memakai pertamax. Biar awet mesinnya.
Yang lebih irit lagi, pajak tahunannya juga cuma Rp 160 ribu. Terakhir baru membayar 31 Maret lalu. Irit banget kan?

Sejak itu, saya kemana-mana menggunakan sepeda motor andalanku, mulai urusan kerjaan, jalan-jalan hingga mengurus paspor dan visa. Alhamdulillah, dalam enam tahun terakhir sudah bisa ke Singapura, Shanghai, Hong Kong, Bangkok, Chiang Mai, hingga Malaysia.
Sepeda motor Honda ku juga menjadi saksi mendapatkan gaji bulanan, menyisihkan buat pribadi, orang tua dan membantu kuliah adik yang kebetulan akan wisuda Sabtu (18/4) ini. Alhamdulillah.
Meski sudah terbilang agak lama (karena sudah hampir enam tahun kunaiki, selebihnya dipakai pemilik lama), aku tidak akan menjual Honda Supra ku itu. Mungkin akan kukirim ke kampung halaman di Kediri agar dipakai orang tua.
Tapi setelah adikku wisuda nanti, aku juga ingin membeli Honda Matic Vario 125. Semoga bisa terlaksana.
Impianku yang belum terlaksana hingga kini adalah wisata ke Jepang, termasuk mengunjungi kantor pusat Honda atau membeli Honda Jazz (mobilnya imut, terutama yang warna putih pearl). Semoga. Orang pintar juga harus punya sepeda motor dengan teknologi pintar juga kan?
Its me. What about you?

Disini malah musim lagi Honda Astrea Grand, banyak dicari, di ceperin kasih keranjang estetik di depannya, kalo minggu tiba banyak anak2 muda Sunmori pake motor ini.
kalo saya lagi cari lagi motor supra yang masih ori, kangen pake motor2 ini, pengen nostalgia disamping memang irit banget bensinnya.
Tapi transum di Jakarta (dan jakarta coret) masih lumayan lho mas dibanding kota2 lain hihihi. Itulah sebabnya kami cari rumah mefet stasiun KRL sehingga bisa jalan kaki ke stasiun dan mengakses transum lainnya.
BTW pajak kendaraanku juga murceee, karena aku dan suami tu cuma punya satu motor yang usianya setahun lebih tua dari anak pertamaku haha. Tukang bengkel aja kaget wkwk.
Motor itu awet belasan tahun karena rutin dibawa ke bengkel dan dipakainya cuma ke masjid, indomaret, stasiun, anter anak ngaji, deket2 doank , itupun jarang karena kami suka jalan kaki haha :P
Mau beli motor baru atau mobil, masih males juga, karena emang ngrasa belum butuh, males nambah beban perawatan ina inu (masih kaum mendang-mending siih wkwk) dan was-was karena curanmor dll, toh ada kendaraan online juga.
Aku lebih suka kendaraan bermotor model2 lama dengan merek2 yang udah terkenal, salah satunya Honda ini yang emang terbukti bandel ya. Nggak minat samsek juga punya kendaraan listrik kek motor listrik, karena pernah denger salesnya keknya kendaraan kek gitu usianya nggak lama =))
Jadi emang kalau mau beli motor ya nanti motor “beneran”. Atau mungkin kalau udah waktunya dan pas emang butuh beli mobil sekalian =))
Aamiin mas semoga keinginan beli Honda Matic Vario 125-nya nanti terlaksana secepatnya yaa :D
Kang didik, apa gak takut ini STNK nya dipajang tanpa disensor gini? ihihi
Tosss kang, saya pun sudah lama jadi pengguna Honda. Sempat pakai motor bebek lawas (Supra 100cc), lalu bergeser ke Vario 110cc, dan sekarang masih setia pakai Vario 125cc KZR. So far menurutku aman-aman aja, bisa diandalkan untuk keperluan harian, dan nyaman untuk menggapai segala tujuan.
Satu-satunya redflag honda tuh cuma bengkel resminya aja. bener2 musuh sejuta umat wkwkwkwk. Aku cuma kesana sekali, lalu kapok sampe sekarang. padahal motor normal, tapi disuruh ganti ini itu. Tapi kalo motornya mah.. mantap lah ya, stabil banget.
Daun selada bikin perkasa
buah cempedak eh banyak bijinya
motor honda memang luar biasa
tapi tidak dengan bengkel resminya
Walau transportasi di Jakarta sudah semakin baik, tapi memnag kalau punya motor akan lebih sat set ya, Mas. Saya pun merasakan, naik motor selama tinggal di Jakarta, membuat langkah saya bisa lebih fleksibel. Dan Honda ini memang dari dulu terkenal mesin bandel dan irit bahan bakar. Dan Mas Didik beruntung, karena Pak Satpam pemilik pertama motor ini merawat motornya dengan baik. Dan akhirnya selama ham[ir 6 tahun sudah menemani Mas Didik ke mana-mana. Dan memang jangan dijual, Mas. Karena banyak kenangn manis bersamanya.
Aku juga lebih suka motor Honda. Sejak pertama bell motor, keluargaku pilihnya Honda. Emang lebih irit bahan bakar sih ketimbang yang pain.
Endingnya seperti iklan obat masuk angin hehe. Kebersamaan yang pastinya tak terlupakan itu, bisa sampai 15 tahun.
Semoga banyak hal baik ya, dan tercapai juga keinginannya Mas Didik
Menarik banget melihat bagaimana sebuah Honda Supra tahun 2000 bisa jadi saksi bisu perjuangan karier dari nol di Jakarta sampai bisa bantu adik wisuda dan jalan-jalan ke luar negeri.
Setuju banget, Honda memang juaranya kalau urusan mesin bandel dan irit, apalagi buat mobilitas tinggi. Semoga impian untuk meminang Vario 125—dan tentunya Honda Jazz putih serta trip ke Jepang—segera terwujud ya! Memang benar, investasi di “teknologi pintar” itu cara cerdas buat menghargai waktu dan kerja keras kita. Salam satu hati
Setuju banget sih, motor Honda itu emang awet sekali. Soalnya pas 2012 beli Supra X baru dan sangat awet sampai tahun 2019 di jual harganya pun masih sangat tinggi.
Maka, beruntung sekali bisa dapat motor Honda seken 3,5 juta dan awet menahun.
Pastinya ada wishlist yang belum kesampaian dan sedang berusaha di wujudkan, liburan ke beberapa negara, explore NTT dan sekitarnya, serta punya rumah sendiri. Bismillah segala harapan dan doa bisa segera terwujud aamiin.
Aku pun motor pertama dulu juga Honda mas . Mungkin Krn keluarga dari awal selaku pakai brand Honda utk mobil dan motor, jadi jujurnya di mindsetku cuma ada brand itu.
Tapiiiii pas nikah Ama suami, eh dia fans brand lain . Kalau mobil suami pernah pakai Honda, sebelum nikah. Cuma Krn maintenance mahal, pindah ke brand T ampe skr. Cuma kalau motor dia memang dari zaman kuliah pakai Y. JD pas nikah ma aku, dan aku saranin beli Honda, tetap ga mau. Krn udah biasa aja kali yaaa.aku ngalah, Krn biar gimana, sejak tinggal di JKT, ga berani lagi bawa kendaraan termasuk motor. Yo wislah, terserah suami aja mau beli brand apa. Toh dia yg bawa. Kecuali aku masih bawa kendaraan, udah pasti Honda yg aku pilih
Bukan promosi sih tapi Honda menjadi pilihan ku , dulu aku nyicil tapi alhamdulillah bisa selesai karena tranfortasi aku pikir sngat penrting , bukan tdak mau pake tranfortasi umum namun pekerjaan ku juga menuntut memiliki motor sendiri karena kadang ada mobile ke luar juga
15 tahun bukan waktu yang sebentar untuk usia sebuah kendaraan oleh kereta itu saya sangat terlalu dengar kesetiaan motor Honda ini dalam menemani hidupnya Mas Didik yang amat bermanfaat dan juga setia selain itu motor ini termasuk bandel alias kuat ya selama 15 tahun pemakaian bisa dibilang jarang rusak dan juga onderdilnya mudah didapatkan karena pelayanan after saesll service Honda yang juga juara sehingga bisa memperpanjang umur kendaraan
Wah selamat ya mas untuk adiknya dan mas Didik sendiri atas segala pencapaiannya. Keren lho.
Btw di rumah ibu juga masih ada honda star tahun 85 dari suami saya kecil dan masih terawat sampai sekarang, saya pakai pun masih bisa. Memang awet kok honda ini asal dipakai sewajarnya bukan ugal-ugalan
aku tim HONDA jugaaa
jaman SMA, aku pakai motor Ibuku, Astrea Star thn 1992 enakkk enteng bgt motornyaa.
lalu ganti Supra…trus circa 2011, aku beli mtr Revo second, dan kepakai banget ampe detik ini
Honda se cetharrrr itu memaanggg
Honda ini merk motor bapak dan mertua saya
Sekarang lagi pakai motor peninggalan mertua. Sudah sering masuk bengkel tetapi gak dijual jual juga sama suami karena mamanya marah kalau dijual. Padahal ya kalau mau almarhum bapak tenang, motornya lebih baik dijual dan uangnya untuk hal lebih bermanfaat daripada bolak balik nyusahin masuk bengkel
honda dari dulu memang terkenal iritnya ya, mas. di rumah juga ada motor honda peninggalan almarhum ayah itu belinya kalau nggak salah tahun 2005 dan masih dipakai sampai sekarang
Aku juga suka merk honda. Entah kenapa terasa terpercaya. Ya walaupun merk lain juga bagus sih.
Ternyata tulisan ini sudah tayang sejak 2015 ya. Apakah sekarang sudah dapat honda vario 125 dan honda jazz-nya?
Setuju banget soal keawetan dan iritnya Honda, bahkan untuk motor keluaran lama pun performanya masih bisa diandalkan kalau dirawat dengan baik. Menarik juga rencana buat ganti ke Vario 125 setelah urusan pendidikan adik selesai, pilihan yang sangat masuk akal buat mobilitas di Jakarta. Semoga impian untuk punya Honda Jazz dan berkunjung ke kantor pusat Honda di Jepang bisa segera terwujud ya.
Supraaa.. eranya maskuuu iniih…
Alhamdulillah, Supra mas juga masiii sangat sangaatt okee sekaliii…
Punyaku dulu Shogun merah putiihh.. tapi jarang dipake, jadi kudu di service dulu siih.. Dan kalo dari segi “bandel”nya, Honda uda juara pissan!!
Aku juga suka minjem.. karena ringan dan satset.. apalagi mainannya “gigi”.. aku ga gitu bisa naik motor matic…mendingan gigi banget.
Supra terDABEESSTT…
Kalau keinginan siiyh… akhir-akhir ini suka yang “pingiiinn” sampeeekk bangeett umroh.
Semoga Allah mudahkan ijabah segala hajat kita yaa.. amiin allahumma amiin.
25 tahun bersama dengan Honda, asli Pak, saya salut dengan dedikasinya merawat motor kesayangan. Setiap 2 bulan sekali mesti rutin service ya, nggak pernah absen. Mungkin karena ini motor menemani Bapak saat-saat susah, jadi berat untuk meninggalkannya ya.